Beranda Berita Photo Diskusi PJMI ; Mencari Pemimpin Beritegritas

Diskusi PJMI ; Mencari Pemimpin Beritegritas

BERBAGI
PJMI saat Gelar Diskusi

 

PJMI saat Gelar Diskusi
PJMI saat Gelar Diskusi

Jakarta, beritatangsel.comBung Hatta dalam sebuah kesempatan dalam sebuah sidang BPUPKI mengatakan, “Kita tak perlu pemimpin tepuk dan sorak kalau kita tak sanggup berjuang,”

Apa yang dikatakan oleh Bung Hatta itu mendapat momentumnya menjelang Pemilu  legislatif dan Pemilu Presiden. Mereka yang terpilih dan mendapatkan mandat dari rakyat Indonesia adalah pemimpin yang akan menentukan arah Indonesia hingga lima tahun kedepan. Kita menginginkan pemimpin yang sanggup berjuang bukan pemimpin yang hanya dapat bertepuk tangan dan sorak-sorai

Pertanyaanya, bagaimana 140 juta rakyat Indonesia  mengetahui  bakal pemimpinnya ? siapa yang mampu menghadirkan pemimpin yang diketahui oleh rakyat itu ? Jika mass media adalah jawabannya, bukankah mass media telah terkooptasi oleh pemilik modal dengan dengan kepentingannya.

Lantas bagaimana menghadirkan pemimpin yang beritegritas. ada sederet pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi Peran Jurnalis dalam Membuka Ruang bagi Pemimpin Berintegritas di Jakarta, yang dilakukan oleh organisasi masyarakat Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) di The City Tower, Jakarta, Kamis (27/3).

Hadir sebagai pembicara, Ir.Mohamad Bawazeer (Ketua Kamar Dagang Indonesia Komite Timur Tengah), Farouk Abdullah Alwyni, MA, MBA (Direktur Center for Islamic Studies in Finance, Economics and Development/CISFED), Brigjen Pol (Purn), Parni Hadi (Pendiri Dompet Dhuafa), Dr.Ainton  Tabah dan  Ubaidillah Badrun, M.Si. (Dosen dan Peneliti pada Pusat Studi Sosial Politik Universitas Negeri Jakarta)  serta Ketua Umum PJMI Mohammad Anthoni, sejumlah pengurus dan jurnalis PJMI.

Parni Hadi yang mendapatkan kesempatan pertama untuk berbicara memaparkan, maraknya praktik koruptif yang dilakukan oleh parpol dan capres untuk memenuhi biaya politik, kemudian menjadikan masyarakat banyak yang anti politik dan akhirnya berpengaruh terhadap angka golput pada Pemilu 2014.

“ Jangan Golput!, itu hanya menguntungkan pihak yang lain. Karena  mencoblos berarti kita telah memastikan pemimpin yang bertauhid kepada Allah. Pemimpin bertauhid dalam arti melaksanakan kepemimpinannya sebagai pengabdian kepada Allah,” kata Parni Hadi.

Parni  berharap  prinsip wartawan kenabian (prophetic journalisme) yang menyiarkan nilai-nilai kebenaran seperti  yang diajarkan oleh nabi Muhammad SAW.

“Jangan mau terima amplop,” katanya.

Menurut Parni, untuk menjadi wartawan yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang terkandung dalam “propethic journalisme” tentunya wartawan harus memiliki akhlak, cerdas dan tentu saja sejahtera. “Ini tugas PJMI, untuk terus mengupayakan kesejahteraan bagi wartawan anggotanya. Kalau tidak, nanti ditinggalkan mereka (anggota), ” kata Parni.

Pilihan Sistem Ekonomi Syariah

Pada kesempatan yang sama, Farouk Abdullah Alwayni menjelaskan,  Potensi perdagangan dunia produk Syariah yang bersertifikat halal bisa mencapai triliunan  dolar sehingga menarik minat tidak saja negara Islam tetapi juga negara-negara non Islam, begitu juga dengan transaksi perbankan Syariah. Farouk menilai,kegagalan dana talangan (bailout) perbankan Amerika beberapa waktu lalu menunjukan ekonomi syariah merupakan pilihan mengatasi beberapa problem ekonomi  kapitalis.

“Mereka memiliki sistem evaluasi sehingga segera bisa memperbaiki sistemnya. Kejadian gagal bayar itu,  akan mengingatkan mereka, ada hal yang harus dirombak, walaupun mereka belum sampai bangkrut, ” kata Farouk.

Intropeksi Ketimbang Menyalahkan Pihak Lain

Senada dengan itu, Muhammad bawazeer  mengatakan, selayaknya umat Islam lebih banyak melakukan introspeksi ketimbang menyalahkan pihak lain. Wartawan, ujarnya. memiliki peran cukup besar misalnya untuk ikut mendorong pengembangan ekonomi syariah, apalagi Indonesia, tertinggal jauh misalnya dibandingkan dengan negara Malaysia yang porsi usaha berbasis syariahnya cukup besar dalam kegiatan ekonominya.

Pendiri Bangsa Cerdas Merumuskan Indonesia

Kesempatan yang sama, Ubaidilah Badrun menambahkan,  para pendiri bangsa  Indonesia secara bijak memasukkan unsur-unsur ajaran Islam dalam ketatanegaraan Indonesia, misalnya konsep pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). saat ini memang sedang berlangsung dengan deras intervensi intelektual Barat ke Indonesia. Ubaidillah menilai,  untuk menahan intervensi itu, umat Islam agar lebih memperhatikan substansi Islam daripada hanya sekadar simbol Islam.

“Indonesia berkah dibangun bukan dengan Islam simbolik, tetapi dengan Islam substantif,” ujarnya.

Sehingga dengan penghayatan seperti itu, perjuangan jaminan produk halal misalnya, akan lebih mudah terlaksana. Demikian pula tokoh yang ada juga masih sebatas tokoh partai yang belum optimal melihat kemandirian Indonesia, belum menjadi tokoh bangsa atau milik Indonesia secara keseluruhan. (gun/rat/dz)

Baca Juga :  Pencak Silat MS Jalan Enam, Sebuah Kearipan Lokal Di kota Tangsel