Beritatangsel.com — Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan tingginya penggunaan media sosial di kalangan remaja, ancaman penyebaran hoaks serta meningkatnya kasus cyberbullying menjadi perhatian serius di dunia pendidikan.
Menjawab tantangan tersebut, SMKS An Nurmaniyah bekerja sama dengan tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Pamulang menggelar program edukasi bertajuk “Penguatan Literasi Digital Siswa melalui Kampanye Bijak Bermedia Sosial: Pencegahan Cyberbullying dan Hoaks.”

Kegiatan yang berlangsung di lingkungan SMKS An Nurmaniyah tersebut diikuti sebanyak 40 siswa kelas XII dengan konsep pembelajaran interaktif dan aplikatif. Program ini dirancang tidak hanya memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga membangun keterampilan praktis siswa dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia digital yang semakin kompleks.
Dalam kegiatan tersebut hadir tim PKM Universitas Pamulang, yakni YAN MITHA DJAKSANA, S.Kom., M.Kom., JOKO SUWARNO, S.Kom., M.Kom., DAHLAN SUPRIATNA, S.Kom., M.Kom., Romdhoni Setiawan, Donny Aulia, Sri Sulasmi, serta Muhamad Tahir Retob.
Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang cyberbullying, cara mengenali dan memverifikasi berita hoaks, pentingnya etika dalam bermedia sosial, hingga membangun empati digital dalam lingkungan pertemanan online.
Tim PKM Universitas Pamulang menilai literasi digital saat ini menjadi kebutuhan mendasar bagi generasi muda, khususnya pelajar yang setiap hari berinteraksi dengan berbagai platform media sosial.
“Kami ingin siswa tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu menjadi pengguna yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menyebarkan informasi,” ujar salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut.

Berbeda dari metode sosialisasi pada umumnya, program edukasi ini dikemas secara interaktif melalui diskusi kelompok, workshop identifikasi hoaks, simulasi penanganan cyberbullying, hingga role playing yang menggambarkan dampak psikologis bullying digital terhadap korban.
Pada sesi praktik, para siswa diajak langsung menggunakan berbagai tools digital seperti Google Reverse Image Search dan cekfakta.com untuk memverifikasi kebenaran informasi yang beredar di media sosial.
Melalui pendekatan tersebut, siswa dapat memahami bagaimana informasi palsu dapat tersebar luas apabila tidak diverifikasi terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada orang lain.
Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Para siswa aktif berdiskusi dan berbagi pengalaman terkait penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah siswa mengaku baru memahami bahwa komentar negatif, candaan berlebihan, maupun unggahan tertentu di media sosial dapat memberikan dampak serius terhadap kondisi mental seseorang.
“Selama ini kami sering menganggap candaan di media sosial hal biasa, tetapi ternyata bisa mempengaruhi mental teman sendiri. Dari kegiatan ini kami jadi lebih memahami pentingnya menjaga etika digital,” ungkap salah satu peserta.
Program literasi digital tersebut juga menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test selama kegiatan berlangsung, pengetahuan siswa mengenai cyberbullying meningkat sebesar 60,9 persen, sementara kemampuan mengidentifikasi hoaks meningkat hingga 70,8 persen.
Selain itu, tingkat empati digital siswa turut meningkat sebesar 40,4 persen, disertai penurunan perilaku cyberbullying sebesar 38,6 persen.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa metode pembelajaran partisipatif dan praktik langsung menjadi pendekatan efektif dalam membangun kesadaran digital di kalangan pelajar.
Tak hanya memberikan edukasi, kegiatan ini juga berhasil mendorong lahirnya agen perubahan di lingkungan sekolah. Sebanyak 95 persen peserta menyatakan siap menjadi Digital Ambassador, yakni siswa yang akan mengajak teman-temannya menggunakan media sosial secara sehat, positif, dan bertanggung jawab.
Tingkat kepuasan peserta terhadap program ini bahkan mencapai 100 persen, menandakan bahwa edukasi literasi digital menjadi kebutuhan yang sangat relevan bagi generasi muda di era modern.
Melalui kegiatan ini, SMKS An Nurmaniyah berharap dapat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari cyberbullying maupun penyebaran informasi palsu.
Pihak sekolah menilai bahwa literasi digital tidak lagi sekadar kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan etika, empati, dan tanggung jawab sosial dalam ruang digital.
Kerja sama antara SMKS An Nurmaniyah dan Universitas Pamulang ini menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan era digital secara bijak dan produktif.
Dengan meningkatnya kesadaran digital di kalangan siswa, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cakap teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat, berpikir kritis, kreatif, serta mampu menciptakan ruang digital yang sehat dan positif bagi masyarakat.









