Beranda Advetorial Pesan Terakhir Untuk Lia

Pesan Terakhir Untuk Lia

BERBAGI

Dari jendela kelas aku melihat satu siswi baru yang tidak asing wajahnya. Rupanya dia pernah satu sekolah denganku semasa Sekolah Menengah Pertama.

Lia adalah gadis manis yang berpenampilan sederhana, sikapnya selalu tenang, dan yang membuat saya tertarik adalah ketika dia memperhatikan orang yang lebih tua berbicara.

Aku dua tahun di atas Lia. Hari ini aku lengser jadi ketua Osis. Aku berharap generasi selanjutnya bisa lebih baik dari periode sebelumnya.

Senin itu, Osis mengadakan open rekrutmen anggota baru. Aku diminta menjadi pewawancara oleh Pa Hasan selaku pembina Osis.

“Jay, tolong panggil satu anak ke sini untuk wawancara”, ucapku ke salah satu panitia

Tak lama kemudian datang salah satu siswi kepadaku. Kebetulan yang datang kepadaku adalah Lia.

Lia duduk tepat di hadapanku. Hening sejenak, menunggu salah satunya berbicara. Akhirnya aku yang pertama kali memulai pembicaraan.

“Pengalaman organisasi kamu apa?” Tanyaku

“Kelas satu SMP saya jadi duta perpustakaan, kelas dua saya jadi ketua osis ka”, jawab Lia sambil melihatku segan.

Itulah kesan pertama aku dengan Lia. Kita bertemu di kursi SMA, merajut perasaan dengannya juga di SMA.

***

Waktu begitu cepat, dalam beberapa hembusan nafas aku mulai duduk di kursi universitas. Aku diterima di salah satu universitas di Jakarta.

Aku mendapat pesan dari Dhiva, salah satu kaka kelasku di SMA. Dia meminta aku datang di acara kemah Pramuka. Kebetulan sekali waktu itu lagi libur semeter ganjil.

“Yori, hari Sabtu ada di rumah ga? Kalau di rumah datang ya nanti Sabtu acara pengambilan kacu”, pesan Dhiva

“Iya ka, besok aku pulang ke rumah, kebetulan aku udah selesai UAS di kampus”, jawabku

Sampai detik ini tidaka ada satu wanitapun yang bisa memikat hatiku, mungkin kecuali Lia. Entah kenapa aku makin suka sama Lia, padahal kita udah jarang ketemu dan jarang komunikasi pula. Fikiranku selalu membawa pada bayang-bayangnya.

Akhirnya di malam acara kemah, aku memutuskan mengungkapkan perasaanku kepada Lia. Di acara itu, Lia menjadi panitia konsumsi.

Pukul 22.00 waktu istirahat, peserta kemah mulai memasuki tenda untuk istirahat.

Sedangkan panitia, membakar ikan di sisa bara api unggun dengan diiringi petikan gitar yang dimainkan salah satu panitia acara.

Aku melihat Lia duduk di depan teras kelas X Ipa 3 Aku mebcoba menghampirinya. Rupanya nyaliku masih kecil, di hadapan Lia aku gugup tak karuan. Gagal aku mengungkapkan perasaanku malam itu.

Minggu sore acara kemah selesai, semua pulang ke rumah masing-masing begitupun dengan Lia.

Baca Juga :  Tingkatkan Kualitas Mutu Pendidikan, SDN Paku Jaya 2 Kini Punya Gedung Baru

Malamnya aku coba menelfon Lia, awalnya ragu, tapi aku tetap menelfonya.

“Assalamualaikum Lia”

“Waalaikumsalam Ka. Maaf, ada apa ya ka”, jawabannya yang begitu formal.

“Ga ppa Lia, aku mau ngobrol aja, boleh?”

“Iya boleh ka”

Kurang lebih 30 menitan aku basa basi dengannya. Menanyakan kabar organisasi, sekarang sibuk apa, gimana dengan belajar di kelasnya.

Malam ini aku aku harus mengungkapkan perasaanku ke Lia, ucapku dalam hati

“Lia aku mau ngomong”

“Iya ka, dari tadi kan kita ngobrol”

“Pertama kali aku liat kamu, aku muali penasaran. Aku penasaran dengan sikapmu yang tenang, dengan caramu memperhatikan orang yang lebih tua, selain itu kamu cukup sederhana ya. Aku suka kamu Lia, aku berharap kita bisa hidup bersama dalam waktu yang tidak ditentukan”

Lia tiba-tiba menangis mendengar ucapanku. Rupanya Lia juga sudah lama memendam perasaannya kepadaku.

Malam itu adalah malam yang paling bahagia. Jika akau faham bahasa bintang, pasti bintang juga sedang tersenyum melihat kita. Malam di mana pertama kalinya aku berhubungan dengan seseorang, malam di mana kita saling janji akan menjaga perasaan satu sama lain.

***

Bersama Lia waktu begitu cepat berlalu… Libur semester telah berakhir, aku segera kembali ke Jakarta.

Lia sempat bercerita kepadaku kalau dia punya cita-cita jadi Polri. Namun waktu itu Lia belum mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi Polri. Fisik Lia masih lemah, di beberapa waktu latihan Paskibra Lia sering jatuh pingsan. Aku ingin membantu Lia mewujudkan cita-citanya, aku tidak bisa diam melihat fisik Lia yang begitu lemah. Aku harus membantu Lia supaya Lia lebih kuat.

Sering sekali ketika pulang sekolah aku menjadwalkan olahraga bersama Lia, tujuannya supaya Lia terbiasa dengan latihan fisik nanti. Aku ljuga belikan buku panduan tes masuk TNI dan POLRI untuk Lia, semoga itu semua bisa membantu Lia dalam mengerjakan soal-soal seleksi nanti.

Hari itu, bagiku adalah hari yang sangat spesial karena pertama kalinya aku membawa Lia ke rumah untuk aku perkenalkan dengan orang tuaku. Lia juga senang bisa main ke rumahku dan silaturahmi dengan keluargaku.

Libur kuliah telah berakhir, hari itu aku kembali ke Jakarta. Hanya komunikasi via telfon yang ku bangun dengan Lia, itupun jarang sekali. Aku jarang menghubungi Lia karena kesibukanku di organisasi. Begitupun dengan Lia, jarang menghubungiku karena sibuk latihan persiapan seleksi Polri. Tapi kita saling percaya aku dan Lia bisa menjaga perasaan dan hubungan yang telah dibangun selama ini.

Baca Juga :  PP-GPII Gelar Buka puasa Bersama dan Santuni 100 anak yatim piatu

Setelah sekian lama, aku mendapat pesan dari Ranti temannya Lia, juga adik kelasku di SMA bahwa Lia lolos seleksi Polri. Kabar baik untuku, aku merasa senang mendengar kabar itu. Tapi sekilas aku merenung kenapa bukan Lia sendiri yang memberi kabar kepadaku. Tidak menjadi masalah bagiku, mungkin Lia sedang bersenang-senang dengan keluarganya, merayakan keberhasilannya. Aku juga sadar hidup Lia bukan selalu soal aku.

Akhirnya aku mengawali komunikasi dengan Lia, mengucapkan selamat kepadanya ‘Selamat ya Lia, kamu hebat. Semua adalah hasil kerja kerasmu’

‘iya ka. Makasih’ dari ngobrol via Whatsapp lalu beralih pada telfon.

Lia menceritakan pengalamannya menjalani seleksi dari awal sampai akhir. Aku merasa senang sekali. Selain keberhasilannya di seleksi Polri, Lia juga mau menjadikan aku buku catatan untuknya menuangkan cerita. Hari itu juga adalah komunikasi terakhir dengannya karena Lia segera pergi ke Karantina untuk menjalani pendidikan selama tujuh bulan. Aku tetap fokus dengan kesibukanku di kampus.

Di kampus aku menjadi aktifis organisasi intra kampus maupun ekstra kampus . Selain sibuk mengerjakan tugas kuliah, aku juga sibuk mengikuti kegiatan organisasi di ranah kemasyarakatan, dalam kampus, maupun pemerintahan.

Yang paling menonjol dariku adalah sebutan mahasiswa gerakan karena aku sering melakukan kajian yang berujung aksi ke jalan.

Waktu cepat sekali berlalu. Hari ini Lia telah selesai menjalani pendidikannya. Lia resmi dilantik menjadi anggota Polri. Lagi lagi yang memberi kabar itu bukan Lia. aku merasa bersalah karena aku tidak sempat menghadiri pelantikan Lia, karena ada acara organisasi di luar kota. Semoga Lia tidak kecewa.

Aku dan Lia bisa berkomunikasi seperti biasa lagi. Banyak waktu yang aku sisihkan untuk mendengar cerita-cerita Lia selama pendidikan. Aku juga ikut senang.

Lia beruntung ditempatkan di Polda Banten, tidak jauh dari kampung halamnnya. Selama Lia mulai bekerja di Polda Banten, komunikasi kita kurang baik. kadang aku merasa canggung menghubungi Lia, karena takut mengganggu waktunya. Lia juga tak kunjung menghubungiku. Tapi aku tetap menjaga perasaanku untuknya, begitupun aku juga percaya Lia akan menjaga perasaannya untuku. Kita berjalan di dunia masing-masing, berjalan tanpa adanya kabar.

Malam itu aku coba menghubungi Lia, tapi tidak ada jawaban. Kenapa sekarang aku sulit sekali menghubunginya. Sampai pada waktunya aku mendengar bahwa Lia sudah punya pacar lagi. Aku tidak percaya, Lia gaakan melakukan hal semacam itu. Lia sudah berjanji akan menjaga perasaannya untuku. Aku gamau memikirkan kabar itu, tapi rupanya hatiku tidak bisa berbohong untuk tidak cemburu.

Baca Juga :  Dra. Hj. Siti Masrifah Ketua Umum DPP Perempuan Bangsa, Optimis Srikandi PKB Sebagai Corong Perjuangan Kaum Perempuan di Parlemen

***

Dua bulan lagi Himpunanku akan mengadakan acara pengkaderan. Salah satu kaderku mengirimkan surat ke Polda Banten. Selang tiga hari, aku dipanggil oleh orang Polda untuk melakukan audiensi. Di depan pintu aku melihat seorang wanita berpakaian dinas Polri berdiri di depan pintu, benar saja itu adalah Lia. Lia tidak melihatku, aku juga tidak memanggilnya. Tak lama kemudian ada seorang laki-laki menghampirinya, lengkap dengan seragam Polri. Aku melihat laki-laki itu mengantarkan makanan untuk Lia. Fikiranku mulai negatif, atau jangan-jangan benar yang diucapkan temanku kalau Lia udah punya pacar lagi.

Sampai selesai acara, Lia tidak menyadari jika aku pernah datang ke Polda dan melihatnya dengan laki-laki.

Sepanjang hari aku memikirkan Lia, aku masih tidak percaya tentang apa yang aku lihat waktu itu. Tapi aku tidak berani memastikan kepada Lia siapa laki-laki itu. Sekian lama aku meraba dalam gelap.

Sampai pada waktunya aku siap menghubungi Lia untuk menanyakan semuanya.

‘Gimana dengan kita Lia’

‘ga gimana-gimana ka, kita gaada apa-apa kan. Aku udah deket dengan laki-laki lain di sini. Lupakan soal dulu ka’ kata Lia via chat

Aku terkejut mendengar jawaban Lia seperti itu. Semuanya sudah jelas. Perasaan Lia sudah berubah, tak lagi mengharapkanku. Tidak lagi menjaga perasaannya untuku.

Aku menyayangimu Lia, tapi hari ini aku cemburu. aku merasa ditinggalkan oleh Lia.

Perasaanku kacau waktu itu, bukan seorang Yori yang disebut mahasiswa gerakan. Aku lemah…

Walau begitu aku tidak pernah menyesali semua hal yang sudah terjadi. Aku tidak pernah menyesali perasaan yang pernah datang dalam diriku. Biarkan Lia meninggalkanku, yang penting bukan aku yang meninggalkannya. Terimakasih sudah pernah menemaniku sejauh ini. Yang sudah kita lalui bersama adalah yang terbaik. Aku berharap tidak tidak menyesal pernah bersama denganku. Aku sadar di dunia ini tidak ada hubungan yang begitu sempurna, manusia Cuma bisa berencana, begitupun dengan aku yang pernah berharap kita bisa hidup bersama selama-lamanya.

Sekarang aku tidak ada kuasa tentang Lia, yang berdenging dalam telingaku adalah ucapan Lia kalau ‘aku bukan siapa-siapa’

Mulai detik ini semuanya terserah Lia. Aku hanya berharap semoga dia baik-baik saja, apapun pilihannya semoga yang terbaik untuknya

Maafkan aku ya Lia…

Terima kasih untuk semuanya…

Titip salam untuk orangtuamu…

Salam manis dariku untukmu, semanis pertama kali kita berkenalan…

Penulis: Muhammad Fahri

Kader Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Ciputat