Hesti Pilih Tinggalkan Karier, Habiskan Rp20 Juta per Bulan Demi Selamatkan Kucing Terlantar

DokGismo Rescue
banner 468x60

Beritatangsel.com Gelar S2 dari Università di Bologna, Italia, tak membuat Hesti mengejar karier di industri fashion seperti kebanyakan lulusan lainnya. Ia justru mengambil keputusan yang tak biasa mengabdikan hidupnya untuk merawat dan menyelamatkan kucing-kucing terlantar yang sakit, terluka, bahkan menjadi korban kekerasan.

Semua bermula pada 2016, saat tujuh ekor kucing datang sendiri ke rumahnya. Jumlah itu terus bertambah menjadi 17 ekor, lalu puluhan. Kucing-kucing yang ia temukan di jalan, atau diantarkan warga karena membutuhkan pertolongan, perlahan mengubah rumah kontrakannya menjadi tempat penampungan darurat. Dalam waktu singkat, jumlah kucing yang dirawat bahkan hampir menyentuh 100 ekor.

Permintaan bantuan pun terus berdatangan. Banyak warga yang kesulitan mendapatkan layanan pengobatan untuk hewan peliharaannya, akhirnya meminta pertolongan Hesti. Ia tak hanya menjemput, tetapi juga merawat hingga membiayai pengobatan dari kantong pribadi.

Kini, jumlah kucing yang berada dalam perawatannya telah mencapai lebih dari 200 ekor.

Setiap bulan, Hesti harus mengeluarkan dana sekitar Rp18 hingga Rp20 juta untuk kebutuhan pakan, pengobatan, sewa tempat, hingga operasional shelter. Tantangan tak berhenti di situ. Selama hampir satu dekade menjalankan tempat penampungan, ia telah empat kali berpindah kontrakan tiga di antaranya harus berakhir dengan pengusiran akibat keluhan lingkungan.

Pada 2019, seorang rekannya menyarankan agar aktivitas penyelamatan tersebut didaftarkan secara daring. Dari situlah lahir Gismo Rescue, nama yang diambil dari kucing pertamanya. Sejak itu, laporan demi laporan terus masuk. Sekitar 40 persen kucing ia selamatkan langsung dari jalan, sementara 60 persen lainnya berasal dari warga yang mengenalnya melalui internet kebanyakan dalam kondisi memprihatinkan.

Kini, keseharian Hesti jauh dari dunia mode. Ia lebih sering merawat luka, membersihkan kandang, hingga mengedukasi relawan terkait perawatan hewan.

Shelter yang ia rintis bahkan telah mempekerjakan staf harian dan koordinator lapangan, meski seluruh kegiatan berjalan tanpa orientasi keuntungan.

Bantuan memang datang, mulai dari donasi makanan hingga kandang. Namun kebutuhan yang besar membuat semuanya masih terasa belum cukup.

Hesti berharap suatu hari dapat memiliki tempat permanen untuk shelter yang juga berfungsi sebagai klinik, penitipan, hingga fasilitas pengelolaan limbah khusus bagi hewan.

Di momen Lebaran, beban itu biasanya bertambah. Banyak warga yang menitipkan kucing karena harus mudik ke kampung halaman. Meski dengan keterbatasan ekonomi, Hesti tetap menerima dan merawat mereka di shelter kecilnya.

“Keuntungan buat saya cuma kepuasan batin. Saat bisa menyelamatkan satu nyawa, itu luar biasa,” ujarnya.

Bagi Hesti, menyelamatkan seekor kucing bukan sekadar aksi sosial, melainkan amanah sebuah bentuk ibadah yang ia jalani dengan ketulusan.

 

Red/Alwi

 

 

 

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *