Beritatangsel.com — Kelurahan Sawah, Kecamatan Ciputat, tancap gas memperkuat pengelolaan sampah berbasis lingkungan dengan menggelar pembuatan teba sampah organik dan biopori di tingkat kelurahan, pada Rabu (14/01/2026).
Program ini dilaksanakan sesuai arahan pimpinan sebagai upaya konkret menekan debit sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sebagai langkah nyata, Kelurahan Sawah menerapkan pengelolaan dan pemilahan sampah di lingkungan kantor kelurahan. Sampah dipilah menjadi organik dan anorganik. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kemasan dipisahkan untuk dikelola lebih lanjut, sementara anorganik lainnya dibuang ke TPA. Adapun sampah organik, seperti sisa makanan, ranting pohon, dan dedaunan, dimasukkan ke dalam biopori yang dibuat di halaman Kantor Kelurahan Sawah.
Pemanfaatan biopori diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA, menghasilkan pupuk kompos, menyuburkan tanah, meningkatkan daya resap air hujan, serta mengurangi potensi genangan.
Lurah Sawah Ciputat, Mega Romala, S.Kom., M.M., mengatakan bahwa kegiatan tersebut melibatkan seluruh unsur kelurahan, mulai dari staf hingga pengurus RT dan RW.
“RT dan RW kami libatkan agar gerakan pengelolaan sampah ini bisa direplikasi langsung di lingkungan warga. Targetnya satu rumah satu biopori,” ujar Mega saat diwawancarai.
Ia menjelaskan, Kelurahan Sawah Ciputat memiliki 12 RW yang seluruhnya telah mempunyai bank sampah aktif berdasarkan Surat Keputusan (SK) kelurahan. Dengan sistem tersebut, sisa sampah yang tidak dapat dimanfaatkan menjadi relatif kecil dan ditangani melalui kerja sama dengan pihak swasta.
“Alhamdulillah, residu sampah di Sawah Ciputat sedikit. Yang tidak bisa dimanfaatkan kami buang melalui pihak swasta,” katanya.
Selain bank sampah, Kelurahan Sawah Ciputat juga telah memiliki satu TPS 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang aktif. Sampah organik diolah di TPS 3R, sementara sampah nonorganik yang bernilai ekonomis dimanfaatkan dan dijual. Dalam sebulan, residu sampah yang harus diangkut ke luar wilayah rata-rata hanya sekitar dua truk.
Mega menambahkan, pembuatan teba sampah organik berukuran 1,5 x 1,5 meter serta penambahan delapan titik biopori merupakan bagian dari kesepakatan bersama seluruh lurah se-Kecamatan Ciputat. Melalui program ini, diharapkan pengelolaan sampah dapat diselesaikan dari sumbernya, yakni rumah tangga.
(Hasan Azhari)







