Beranda Berita Photo Promosi Kesehatan UIN Jakarta Gelar Vicon Seminar Profesi Tahun 2020

Promosi Kesehatan UIN Jakarta Gelar Vicon Seminar Profesi Tahun 2020

BERBAGI

CIPUTAT, BERITATANGSEL.COM — Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia menjadikan banyak perubahan tatanan kehidupan yang masih terjadi hingga kini. Di tengah perkembangan dan persebarannya yang semakin cepat, situasi ini juga tidak luput dari persoalan dan permasalahan mengenai berita-berita salah yang beredar dan belum diketahui kebenerannya atau yang biasa dikenal dengan istilah misinformasi. Selasa, (17/11/2020).

Perkembangan teknologi dan media informasi menjadi salah satu alasan tersebarluasnya misinformasi di media sosial dengan cepat, khususnya misinformasi mengenai Covid-19.

Sebagai upaya untuk berkontribusi dalam memerangi misinformasi Covid-19, Promosi Kesehatan Kesmas UIN Jakarta mengadakan Seminar Profesi dengan mengangkat tema mengenai “Strategi Promosi Kesehatan Dalam Memerangi Misinformasi Covid-19 di Era 4.0” yang digelar melalui live zoom meeting diikuti sekitar 550 peserta. Kegiatan ini dimulai pada pukul 08.00 WIB, dibuka oleh Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Jakarta, Dr. Zilhadia, M.Si., Apt dengan menghadirkan beberapa narasumber seperti Prof. Dr. Widodo Muktiyo, Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo RI, Andi Sari Bunga Untung, SKM, MSc. PH, Ditjen Promkes Kemenkes RI, Harry Sufehmi, MSc Pendiri Forum Komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, serta Dr. M Farid Hamzens, Dosen Kesmas UIN Jakarta.

Prof. Dr. Widodo Muktiyo sebagai narasumber petama mengatakan bahwa WHO memunculkan istilah infodemi yang menggambarkan persebaran hoaks yang berkaitan dengan pandemi Covid-19, salah satunya adalah munculnya misinformasi karena adanya penyebaran informasi yang tidak tepat akibat adanya ketidaktahuan akan informasi yang tepat.
Menurutnya, hoaks dapat dijadikan sebagai alat propaganda dengan persentase 90,30% berita bohong yang disengaja, 61,60% berita yang menghasut, dan 59% sebagai berita yang tidak akurat. “Terdapat lima jurus melawan hoaks Covid-19 yaitu mengecek berita kepada sumber yang valid di covid19.go.id, berfikir jernih, jangan terprovokasi oleh judul berita, teliti akan keaslian foto dan video, serta bergabung di dalam komunitas anti hoaks. Kelima jurus tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam memerangi hoaks yang beredar di media sosial,” ujarnya.

Baca Juga :  Kelurahan Tidak Tahu Adanya Surat Edaran dari Satpol PP

Sementara narasumber kedua, Andi Sari Bunga Untung memaparkan mengenai tantangan promosi kesehatan di era 4.0. Industri kesehatan di era 4.0 dibutuhkan keterampilan sebagai pendekatan baru untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan melakukan gerakan di masyarakat dan perubahan perilaku.
Diinformasikannya, pemerintah telah menerbitkan berbagai regulasi, protokol, pedoman dan media untuk menjadi panduan dalam menghadapi persoalan mengenai Covid-19. Semua regulasi dan pedoman tersebut perlu diterapkan dan diimplementasikan secara bersama-sama dan bersinergi oleh semua pihak. Dalam pelaksanaannya, tidak hanya perangkat pemerintah saja yang harus melaksanakan upaya-upaya penenganan namun juga perlu partisipasi dan peran aktif masyarakat.

Saluran komunikasi juga menjadi hal penting dalam penyebaran informasi, salah satunya melalui media sosial yang dapat diakses oleh masyarakat setiap harinya. Persebaran informasi yang cepat dan tepat diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku individu untuk berhati-hati dalam menerima informasi.” tambahnya

Pemateri lainnya yakni, Harry Sufelmi adalah pendiri forum komunitas Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Forum yang dirintis pada tahun 2015 ini memiliki fokus dalam penangkalan berita hoaks yang terjadi di masyarakat. Beliau menyampaikan masalah hoaks Covid-19 terjadi karena 29% masyarakat tidak sadar telah mengkonsumsi hoaks dan 42% masyarakat kekurangan informasi seputar Covid-19.

“Mafindo juga telah melakukan strategi dalam melawan hoaks dengan mengaktifkan partisipasi masyarakat untuk menyelesaikan masalah masyarakat itu sendiri, seperi dalam hal penerimaan berita hoaks”, katanya.
Dr. M. Farid Hamzen sebagai dosen dan juga narasumber dalam acara tersebut, memberikan materi mengenai pentingnya peran mahasiswa dalam memerangi misinformasi pencegahan covid-19. Dalam pembahasannya, beliau meyampaikan perlu adanya pendekatan yang dibangun secara masif agar mengurangi dampak negatif dari berita salah yang beredar di media sosial. “Mahasiswa dapat bergerak menjadi duta literasi media untuk memberikan contoh perilaku yang dapat memotivasi kelompok masyarakat membangun kemampuan literasi media”, pungkasnya. (Red)