Beritatangsel.com — Setiap tahun, gema takbir Idul Adha selalu menggetarkan hati umat Muslim di seluruh dunia. Momentum ini kembali mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS sebagai simbol ketaatan, ketulusan, dan pengorbanan tertinggi dalam sejarah spiritual manusia.
Ibadah kurban sejatinya tidak hanya dipahami sebagai ritual penyembelihan hewan semata, melainkan juga sebagai proses pembersihan diri dari sifat-sifat “kebinatangan” dalam diri manusia, seperti keserakahan, egoisme, dan kerakusan. Namun, di balik kekhidmatan ritual tersebut, muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana nilai-nilai pengorbanan itu benar-benar hadir dalam kehidupan berbangsa saat ini?
Rapuhnya Nilai Kebangsaan
Hewan kurban yang dibagikan kepada masyarakat sejatinya merepresentasikan pesan sosial yang inklusif: tidak ada sekat kelas, suku, agama, maupun afiliasi politik. Namun, realitas kebangsaan hari ini dinilai semakin jauh dari semangat tersebut.
Nilai-nilai kebangsaan yang dulu menjadi fondasi persatuan kini kian tampak rapuh. Identitas keagamaan, suku, dan golongan kerap tidak lagi menjadi sumber keberagaman yang dirayakan, melainkan komoditas politik yang diperdagangkan untuk kepentingan elektoral.
Solidaritas sosial yang menjadi akar nasionalisme perlahan terkikis oleh menguatnya individualisme dan polarisasi. Ruang publik, khususnya di media sosial, dipenuhi perdebatan yang memecah belah, sementara upaya merawat persatuan bangsa menghadapi tantangan serius dari berbagai kepentingan.
Runtuhnya Semangat Pengorbanan Elite Politik
Kisah Nabi Ibrahim AS sering dijadikan teladan tentang kepemimpinan yang rela berkorban demi kebenaran yang lebih tinggi. Namun, realitas yang berkembang saat ini justru menunjukkan kontras yang tajam.
Kekuasaan, yang semestinya dipahami sebagai amanah, dinilai sebagian kalangan telah bergeser menjadi alat kepentingan pribadi maupun kelompok. Alih-alih menghadirkan pengorbanan demi rakyat, yang muncul justru dugaan pengorbanan kepentingan publik demi melanggengkan kekuasaan.
Dalam situasi tersebut, muncul kritik bahwa hukum dapat dipolitisasi, etika dilanggar, dan prinsip konstitusi dilemahkan. Di tengah kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang masih menghadapi berbagai tekanan, krisis keteladanan dari para elite menjadi sorotan yang tidak dapat diabaikan.
Penyempitan Ruang Kebebasan Sipil
Makna kurban sebagai simbol pengendalian sifat buruk manusia dipandang mengalami distorsi dalam praktik kehidupan sosial dan politik. Sifat-sifat yang semestinya dikendalikan justru dianggap masih tampak dalam bentuk baru yang berdampak pada ruang kebebasan sipil.
Ruang publik yang idealnya menjadi tempat menyampaikan aspirasi dinilai semakin menyempit. Kritik dari warga, mahasiswa, hingga aktivis kerap menghadapi berbagai bentuk tekanan, sementara isu-isu agraria dan kebebasan berekspresi masih menjadi perhatian serius di tengah masyarakat sipil.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran akan melemahnya kualitas demokrasi apabila ruang dialog dan kritik tidak dijaga secara sehat dan terbuka.
Momentum Refleksi dan Pertobatan Nasional
Idul Adha tidak seharusnya berhenti sebagai seremoni tahunan atau simbol perayaan semata. Lebih dari itu, momentum ini dinilai sebagai saat yang tepat untuk melakukan refleksi nasional, terutama bagi para pemegang kekuasaan.
Makna kurban yang sejati adalah kemampuan untuk menundukkan ego, mengendalikan ambisi, serta mengedepankan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Nilai ini diharapkan tidak hanya hidup dalam ritual keagamaan, tetapi juga terwujud dalam praktik bernegara.
Jika tidak, dikhawatirkan perayaan kurban hanya akan menjadi simbol tanpa makna, sementara berbagai persoalan kebangsaan terus berlangsung tanpa solusi yang mendasar.

Sigit Hartono
Perkumpulan Arah Muda Progresif








