Beranda Berita Photo Tragis, Korban Pengusuran Pemerintah Kota Tangerang Tidur di Lahan Kuburan

Tragis, Korban Pengusuran Pemerintah Kota Tangerang Tidur di Lahan Kuburan

BERBAGI
Berbagilah dengan :

KOTA TANGERANG, Beritatangsel.com – Warga Mekarsari RT 02/06, Kelurahan Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang korban pengusuran Pemerintah Kota Tangerang pada Rabu (6/12/2017) hingga kini belum dapat menerima kenyataan dan akhirnya tidur di lahan kuburan.

Kendati hal itu diungkapkan seorang warga ErniĀ (39). bersama empat orang anak telah menempati wilayah Mekarsari lebih kurang 30 tahun, hingga mempunyai satu orang cucu berusia satu bulan, kini dia masih belum bisa menerima kenyataan rumahnya luluh lantah rata dengan tanah.

“Saya masih belum bisa menerima kenyataan, soalnya saya di perlakukan bukan seperti manusia. Rumah yang saya tinggali dibongkar begitu saja tanpa adanya penggantian. Mangkanya saya tidur bersama keluarga dan cucu saya di kuburan yang letaknya bersebelahan dengan rumah saya yang baru di gusur. Karena saya masih belum bisa menerima kenyataan,” ungkapnya Kamis (7/12/2017).

Paska pengusuran yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang, Erni bersama keluarga masih menduduki lahan pemakaman tak jauh dari rumahnya, lantaran tidak sanggup untuk menyewa rumah kontrakan dan masih enggan pindah dari tanah kelahirannya.

“Saya, beserta keluarga asli warga sini, Kota Tangerang adalah daerah kelahiran saya suami saya. Anak saya empat orang yang sudah berkeluarga ada dua orang, sedangkan yang dua lagi masih sekolah, anak saya ada yang tinggal bersebelahan dengan adanya pembongkaran jadi kena semua dan tidur di kuburan bareng saya. Saya nggak sanggup untuk menyewa kontrakan jadi saya pilih tidur disini dengan harapan pemerintah memerhatikan kita,” jelas sedih.

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, bahwa dirinya berharap kepada siapapun yang melakukan pembongkaran ini, mau dari pihak Pemerintah ataupun dari pihak Palem Semi untukĀ  berbelas kasih kepada masyarakat dan dapat menggantikan kerugian yang di alami oleh masyarakat sekitar.

“Kami tidak meminta lebih, kami hanya minta tempat untuk bisa berteduh dari hujan dan panasnya matahari. Karena kalo saya di ganti dengan nilai uang pasti habis. Mending saya diberi tempat tinggal yang baru tidak harus bagus, gubug juga saya terima karena itu bisa berkelanjutan untuk nanti anak dan cucu saya,” tukasnya. (Put)

Berbagilah dengan :