Beritatangsel.com — Kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir kembali menjadi sorotan publik, terutama di kalangan generasi muda atau Gen Z. Fenomena ini tidak lepas dari semakin mudahnya akses investasi melalui berbagai platform digital yang memungkinkan pembelian emas dengan nominal kecil.
Di satu sisi, kondisi ini mencerminkan peningkatan kesadaran finansial generasi muda yang mulai peduli terhadap pengelolaan keuangan sejak dini. Namun di sisi lain, muncul kecenderungan yang patut diwaspadai, yakni keputusan investasi yang didorong oleh fear of missing out (FOMO).
Emas selama ini dikenal sebagai instrumen investasi yang relatif aman atau safe haven, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kenaikan harga emas yang cukup tinggi semakin memperkuat anggapan tersebut dan mendorong minat masyarakat, termasuk Gen Z, untuk ikut berinvestasi. Namun, informasi di media sosial sering kali terlalu sederhana dan belum diimbangi dengan edukasi yang cukup.
Banyak yang tergiur oleh tren tanpa memahami bahwa harga emas juga dapat mengalami fluktuasi.
Kondisi ini berpotensi mendorong investor pemula mengambil keputusan yang kurang rasional. Membeli emas saat harga sedang tinggi, hanya karena takut tertinggal tren, dapat meningkatkan risiko kerugian, terutama dalam jangka pendek.
Padahal, investasi yang baik seharusnya didasarkan pada pertimbangan yang matang, pemahaman risiko, serta tujuan keuangan yang jelas.
Fenomena ini menunjukkan pentingnya literasi keuangan di era digital. Kemudahan akses informasi seharusnya diikuti dengan kemampuan untuk memahami dan menyaringnya secara kritis. Tanpa pemahaman yang cukup, kemajuan teknologi justru dapat mendorong seseorang mengambil keputusan keuangan tanpa pertimbangan matang.
Di sisi lain, meningkatnya minat Gen Z terhadap investasi, termasuk emas, tetap merupakan perkembangan yang positif. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran pola pikir dari konsumtif menuju produktif. Namun, agar tren ini memberikan dampak yang optimal, diperlukan edukasi yang lebih masif dan berkelanjutan, baik dari institusi pendidikan, pemerintah, maupun pelaku industri keuangan.
Pada akhirnya, investasi bukan sekadar mengikuti tren, melainkan tentang membangun masa depan finansial yang berkelanjutan.
Gen Z perlu menyadari bahwa investasi yang baik tidak ditentukan oleh seberapa cepat mengikuti tren, tetapi seberapa baik memahami arah dan tujuannya
Opini ini dibuat oleh Amalia Rizki Yunita, Mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Pamulang.









