Beranda Berita Photo Pembentukan Karakter dengan Kurikulum 2013 Menciptakan Generasi Emas

Pembentukan Karakter dengan Kurikulum 2013 Menciptakan Generasi Emas

BERBAGI
Drs. Arbani Kepala Sekolah SMAN 3 Kota Tangerang (Foto : Putra)
Drs. Arbani Kepala Sekolah SMAN 12 Kota Tangerang
Drs. Arbani Kepala Sekolah SMAN 12 Kota Tangerang

Tangerang, BT.com – Kurikulum 2013 sesungguhnya merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.Seperti yang kita ketahui bahwa tuntutan pendidikan mengacu kepada 8 Standar Nasional Pendidikan yang meliputi Standar Pengelolaan, Standar Biaya, Standar Sarana Prasarana, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan. Dalam kurikulum 2013, terdapat perubahan 4 komponen standar yakni Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, dan Standar Kompetensi Lulusan. Standar isi meliputi perubahan kurikulum dengan kerangka dasar kurikulum Tematik Terpadu. Pendekatan tematik terpadu menggunakan satu buku untuk semua mata pelajaran. Hal ini agar dapat selaras dengan kemampuan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi dan carrier of knowledge. Semua mata pelajaran pun diikat oleh kompetensi inti yang terdiri Kompetensi Inti Religius, Sosial, Pengetahuan, dan Keterampilan.

Dari sisi standar proses, Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan sientific yakni pendekatan ilmiah dengan mengamati, bertanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Artinya, pembelajaran tidak hanya satu arah dari guru saja. Siswa diajak terlibat aktif dalam pembelajaran. Ibarat sebuah ruangan, selama ini hanya guru yang menjadi “lampu” dalam ruangan pembelajaran. Pada kurikulum 2013, para siswa bisa menyalakan lampu-lampu sendiri dengan pendekatan sientific ini. Para siswa diajak mencoba dan berpikir kritis sehingga ada banyak lampu-lampu yang dinyalakan dan membuat suasana pembelajaran menjadi lebih terang dan lebih hidup. Sehingga pada kurikulum 2013 ini, para siswa tidak sekedar hanya menjadi pengamat yang baik, tapi juga pelaku aktif dalam pembelajaran tersebut. Tentu saja, guru sekreatif mungkin memfasilitasi dan mendorong siswa untuk mampu melakukan pengamatan, bertanya, mencoba, menalar, dan pengkomunikasian yang baik.       

Pendekatan sientific ini mengajak siswa untuk mencari tahu, bukan selalu diberi tahu oleh guru. Sehingga, pendekatan ini mendorong dan menginspirasi peserta didik berpikir secara kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan substansi atau materi pembelajaran. Bukan hanya sekedar hafalan yang mereka tidak pahami maksud dari apa yang mereka hapal tersebut. Misalnya saja, untuk pelajaran kelas 1 SD, para siswa menghapal materi ” jas hujan terbuat dari bahan plastik”. Mereka jarang sekali bertanya kenapa jas hujan terbuat dari bahan plastik. Kenapa tidak terbuat dari bahan kertas saja. Selain itu tidak ada ruang untuk percobaan dan penalaran siswa tentang jenis-jenis bahan tersebut. Misalnya siswa menuangkan sendiri air di atas kertas dan di atas plastik, apa perbedaan yang terjadi. Sehingga, mereka tidak paham pada apa yang mereka hapal. Pengetahuan para siswa hanya pada tahap permukaan saja.

Bila boleh diibaratkan pengetahuan itu lautan, para siswa hanya mempelajari terbatas pada permukaan lautan saja karena hanya sekedar menjadi pengamat dan penghafal pelajaran. Padahal sesungguhnya apa-apa yang terdapat di dalam lautan menyimpan pembelajaran yang jauh lebih  banyak dibanding pengamatan pada permukaan saja ketika itu bisa digali, dieksplorasi, dan dinalar serta dikomunikasikan. Inilah yang ingin disempurnakan oleh kurikulum 2013 agar para siswa bisa bereksplorasi dan bernalar sehingga pembelajaran yang mereka dapatkan tidak sekedar pada tataran permukaan saja. Dengan demikian, ilmu yang mereka dapatkan tidak seperti paku yang ditancapkan sekedar menempel di tembok yang bisa jatuh ketika ada tiupan angin, namun ilmu tersebut tertancap secara dalam di tembok dengan kemampuan siswa mengamati, bertanya, mencoba, bernalar, dan berkomunikasi.   

Proses merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Artinya, pembelajaran tidak hanya sekedar melihat hasil, namun proses memainkan hal yang sangat penting. Artinya, kurikulum ini mengukur proses kerja siswa, bukan hanya hasil kerja siswa.Dalam proses, selain pengetahuan, aspek sikap dan keterampilan diajarkan. Ini juga yang menjadi salah satu perubahan kurikulum 2013, yakni dilihat dari aspek kompetensi lulusan dan standar penilaian pendidikan. Dalam kurikulum 2013, aspek penilaian terdiri dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Selama ini, banyak guru menilai siswa hanya dari sisi kognitif nya saja sehingga sikap dan keterampilan anak menjadi kurang terasah. Akibatnya, banyak sekali kita jumpai siswa-siswa yang secara IQ tinggi, namun secara sikap kurang terpuji. Banyak sekali kita temui siswa-siswi kita yang pintar secara kognitif, namun tidak berani tampil di depan dan tidak percaya diri untuk mencoba. Hal ini lah yang ingin mulai dirubah di kurikulum 2013 ini.

Standar penilaian pendidikan pada kurikulum 2013 adalah penilaian otentik. Artinya, penilaiannya valid, nyata, konkret, dan tepat.  Para guru secara kontinyu menilai perkembangan siswa, termasuk penilaian sikap nya sehingga penilaian siswa itu benar-benar utuh, baik dari sikap, pengetahuan, dan keterampilan dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan.    Mengapa sikap juga menjadi salah satu komponen penilaian? Sekarang kita ambil contoh kecil tentang penilaian sikap yakni sikap jujur. Di sini, para siswa dimonitor mengenai kejujurannya sedari awal. Misalnya, tidak menyontek saat ulangan, melaporkan kepada guru ketika menemukan barang yang bukan miliknya, dan berani mengakui kesalahannya.

Penilaian sikap jujur ini dimonitor secara kontinyu untuk bisa diaplikasikan dalam keseharian anak yang muaranya tertanam kebiasaan anak untuk senantiasa bersikap jujur. Implikasinya ketika anak sudah terbiasa untuk jujur, anak mampu untuk tidak menyontek saat ulangan atau ujian nasional. Implikasi lebih jauh lagi, anak tidak akan menjadi seorang koruptor ke depannya karena anak sedari awal ditanamkan untuk senantiasa jujur. Dampaknya, Indonesia akan lebih makmur karena tidak ada atau berkurangnya koruptor di negeri ini. Implikasinya, masyarakat lebih sejahtera.       

Dari contoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek sikap anak ternyata mempunyai peran penting dalam pembangunan di Indonesia ini, selain pengetahuan dan keterampilan. Sehingga penilaian sikap ini tidak bisa dianggap “sepele” karena ternyata dampaknya begitu luar biasa. Dengan demikian, harapannya dengan kurikulum 2013 ini, mampu menumbuhkan generasi emas bangsa yang tidak hanya pintar, tapi terampil dan memiliki sikap yang baik. Apalagi sumber daya manusia usia produktif Indonesia akan melimpah pada tahun 2020-2035 . Tentu saja ini  akan menjadi modal pembangunan yang luar biasa besarnya apabila SDM nya pintar, terampil, dan memiliki sikap yang baik. Bukankah Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya? Oleh karena itu, tentu saja itu akan termanfaatkan dengan optimal apabila didukung oleh SDM yang pintar, terampil, dan memiliki sikap yang baik.                   

Tentu saja, dalam pelaksanaan kurikulum 2013 ini memiliki banyak tantangan. Hal ini tentu saja disadari oleh semua pihak. Apalagi semakin banyak administrasi yang harus dikerjakan oleh  sekolah dan para guru. Oleh karena itu, menjadi penting bagi instansi dan lembaga terkait untuk terus mendampingi pelaksanaan kurikulum ini. Selain itu, forum musyawarah kepala sekolah/ guru juga harus diaktifkan agar kesulitan-kesulitan dalam pelaksanaan kurikulum ini bisa dibahas dan diselesaikan bersama. Selain instansi dan sekolah, peran walimurid juga menjadi penting sehingga harus ada sosialisasi kepada walimurid tentang kurikulum ini agar dapat membantu suksesnya tujuan dari kurikulum 2013 ini. Dengan demikian, peran serta kerjasama yang baik dari seluruh komponen terkait tentu diperlukan untuk menumbuhkan generasi emas negeri ini. (Putra/jef)

Baca Juga :  Babinsa Koramil/03 Serpong Memberikan Materi Pelatihan PBB MPLS di SMA 7 Tangsel