Beranda Opini & Tokoh Jabir bin Hayyan Sang Kimiawan Muslim di Masa Keemasan Islam

Jabir bin Hayyan Sang Kimiawan Muslim di Masa Keemasan Islam

BERBAGI

BERITATANGSEL.COM,- Kini kita hidup di zaman yang dikendalikan oleh Sains, yang bermakna pengetahuan. Maksud dari kata Sains ialah suatu cara untuk mempelajari berbagai aspek-aspek tertentu dari alam secara terorgansir, sistematik dan melalui metode sainfitik yang terbakukan. Makna lain dari sains adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian. Sains bertujuan untuk menghasilkan model yang dapat berguna tentang realitas. Salah satu bidang Sains ialah Kimia.

Kata kimia berasal dari alkimia, sebutan untuk serangkaian praktik pada masa-masa terdahulu yang meliputi unsur-unsur ilmu kimia, metalurgi, filsafat, astrologi, ilmu mistik, dan ilmu pengobatan. Kimia kadang-kadang disebut sebagai pusat ilmu pengetahuan karena menjembatani ilmu-ilmu pengetahuan alam, termasuk fisika, geologi, dan biologi.
Ilmu kimia berarti: ilmu yang mempelajari rekayasa materi, yaitu mengubah materi menjadi materi lain atau suatu bagian dari ilmu pengetahuan alam, yang mempelajari materi mengenai struktur dan sifat materi (zat), perubahan materi (zat) dan energi yang turut serta dalam perubahan suatu zat atau materi
Berbicara tentang kimia, disadari atau tidak, sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari manusia dikelilingi oleh kimia. Banyak sekali hal-hal yang terkait dengan kimia dalam kehidupan manusia. Mulai dari makanan, pakaian, bahan bakar, obat-obatan, bahan bangunan, bahan industri, dan bahan produk yang melibatkan ilmu kimia. Ilmu kimia merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari sifat-sifat, struktur, komposisi, dan perubahan materi. Ilmu kimia sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Setiap orang mempunyai pandangan tersendiri terhadap ilmu kimia dan peranan ilmu kimia bagi kehidupan. Ada yang berpandangan negatif, ada pula yang berpandangan menerima kehadirannya. Mereka yang berpandangan negatif adalah orang-orang yang belum memahami betapa pentingnya peran ilmu kimia dalam kehidupan, kurangnya ilmu pengetahuan tentang ilmu kimia menjadi penyebab utamanya. Mereka menganggap bahwa hal-hal yang berkaitan dengan kimia akan berhubungan dengan zat-zat berbahaya yang mengandung racun.

Coba perhatikan segala benda di sekitar kita, seperti baju dengan beragam warna, plastik dengan beragam bentuk, kertas dengan berbagai ukuran, semen, pupuk, tembaga, besi, karat, bensin dan obat-obatan. Semua benda tersebut dihasilkan melalui proses reaksi kimia yang tentu saja membutuhkan ilmu pengetahuan di bidang kimia yang memadai untuk melakukan prosesnya.

Membahas tentang kimia, identik dengan penemuan yang tidak biasa dari para ilmuan. Seperti yang telah dipelajari pada masa Sekolah Menengah Atas dahulu. Tak dipungkiri kimiawan pertama kali yang terlintas dalam benak kita diantaranya hanya John Dalton, Michael Faraday, Joseph Proust, Ernest Rutherford, dan kimiawan-kimiawan barat lainnya. Namun, banyak yang belum mengetahui bahwa negara timur khususnya pada masa keemasan islampun banyak melahirkan ilmuan-ilmuan cerdas sehingga memberikan pengaruh besar pada bidang kimia yang manfaatnya bisa kita rasakan hingga kini.

Contohnya sering kita temukan dalam buku kimia bahwa nama Joseph Proust disebut-sebut sebagai kimiawan pertama kali yang menemukan Hukum Perbandingan Tetap. Padahal, jauh sebelum Joseph Proust mengembangkan Hukum Perbandingan Tetap, Jabir bin Hayyan lah yang mengawali rintisan tentang penelitian tersebut.

Dalam hal ini tentunya fungsi Hukum Perbandingan Tetap “Hukum Proust” sangatlah penting dalam ilmu kimia. Hal ini karena hukum dapat memberikan kontribusi pada konsep mengenai senyawa kimia yang jelas dan dapat memberikan konsep bagaimana unsur-unsur dapat membentuk senyawa. Lalu Hukum Josept Proust “Perbandingan tetap” ini sangat membantu seorang John Dalton yang mengemukakan sebuah Teori Atom pada tahun 1803 silam dan Teori Atom tersebut diambil berdasarkan pada Hukum Perbandingan Tetap “Proust” dan Hukum Perbandingan Berganda.
Ternyata, awal dari munculnya “Hukum Proust” dalam bidang ilmu kimia berhasil dikembangkan secara sistematis melalui eksperimen tentang kuantitas zat yang berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi. Dengan berhasilnya Jabir bin Hayyan terhadap eksperimen tersebut dianggap mengawali rintisan tentang penemuan Hukum Perbandingan Tetap terhadap reaksi kimia. Hukum Perbandingan Tetap atau yang sering disebut dengan Hukum Proust adalah hukum yang menyatakan bahwa seluruh senyawa terdiri dari perbandingan massa unsur pembentuk yang selalu sama “konstan”. Hukumnya perbandingan tetap tersebut berbunyi, “perbandingan berat unsur-unsur penyusun senyawa adalah tetap”. Eksperimen yang dilakukan Proust adalah reaksi antara unsur hidrogen dan oksigen sehingga terbentuk air “H2O”.

Baca Juga :  LST POSTAR Sukses lakonkan Nyonya dan Nyonya

Keterangan di atas merupakan bukti bahwasanya dibalik ilmuan barat yang melahirkan gagasan, temuan serta ilmu baru dalam bidang kimia tak luput dari jasa eksperimen ilmuan islam pada masa Keemasan Islam.

Muslim mendominasi perkembangan sains dunia semasa tahun 800 Masehi sampai sekitar 3 abad kemudian. Umat Muslim saat itu menikmati kemajuan sains, ekonomi dan budaya yang mengagumkan di bawah pemerintahan khalifah Harun al-Rashid (786-809 Masehi). Hingga beberapa khalifah setelahnya. Inilah yang disebut sebagai Masa Keemasaan Islam. Salah satu bukti Masa Keemasan Islam adalah lahirnya ilmuan-ilmuan yang melahirkan temuan hebat, bahkan menjadi pelopor ilmu pengetahuan yang terus dikembangkan oleh ilmuan dari masa ke masa. Salah satunya ilmuan pada bidang kimia yang terlahir di masa keemasan islam ialah Jabir bin Hayyan.

Jabir bin Hayyan adalah seorang ilmuwan dan filsuf Arab. Ia dianggap sebagai perintis pertama dalam ilmu kimia. Sosoknya ialah Abu Musa Jabir bin Hayyan bin Abdullah Al-Azdi. Ia dipanggil dengan nama AI-Azdi karena berasal dari kabilah Yaman yang besar yaitu kabilah Azad. Jabir dilahirkan di kota Thus Iran pada tahun 101 H (720 M), dari seorang ayah yang bekerja dibidang farmasi. Jabir hidup di zaman Daulah Abbasiyah pada masa khalifah Harun Ar Rasyid. Di hadapan Harun Ar-Rasyid, Jabir mengusulkan untuk mendatangkan buku-buku ilmiah Yunani dari Konstantiopel. Akan tetapi setelah terjadi Tragedi Baramikah, Jabir lari ke Kufah dan menetap di sana seraya bersembunyi dari para pendukung khalifah tanpa ada seorang pun dari mereka yang mengetahuinya. Jejaknya kemudian tidak diketahui setelah dua abad kemudian dari tahun wafatnya ketika laboratoriumnya ditemukan setelah digusurnya rurnah-rumah yang terletak di distrik Bab Damaskus, tempat tinggalnya.

Jabir merupakan penulis aktif tak heran banyak buku yang dikarangnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa dia menulis sebanyak 500 makalah dalam bidang kimia. Diantara karya tulisnya yang terkenal adalah sebagai berikut: Al-Khawash Al-Kabir, Kitab As-Sab’in, Kitab Ar-Rahntah, Al-lantal Al-‘lsrun, Al-Ahjar, Asrarul Kimiya dan Ushulul Kimiya.

Baca Juga :  Paslon & Parpol Pendukung Harus Kerja Keras di Pilbup Tangerang

Penemuan-penemuan Jabir bin Hayyan antara lain ialah menemukan sebagian alat penyajian bahan-bahan kimia dan mencampurnya dengan peralatan yang lain. Dalam bukunya, ia banyak menerangkan tentang peralatan ini, diantaranya eksperimen yang terbuat dari kaca dan logam, dia berhasil memadukan asam hidroklorik (senyawa garam) dengan asam netrik, yang sekarang disebut sebagai air raksa, ia berhasil memadukan soda yang dibakar (hidroksida sodium) dengan didihan soda (karbonat sodium) dan kalsium oksida, ia mampu membedakan antara zat asam dengan alkalis, ia menemukan beberapa cara yang efektif untuk memurnikan logam dan mencampur baja untuk keperluan industri serta menjaga besi dari karat. Jabir juga ikut berperan besar dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
Pencapaian yang sangat fenomenal itu merupakan buah karya dan dedikasi para lmuwan muslim, salah satunya ialah Jabir ibnu Hayyan (721M-815M) yang telah memperkenalkan eksperimen atau percobaan kimia. Ia bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Salah satu ciri khas eksperimen yang dilakukannya bersifat kuantitatif. Ilmuan Muslim berjuluk ‘Bapak Kimia Modern’ itu juga tercatat sebagai penemu sederet proses kimia seperti penyulingan/distilasi yang berfungsi untuk memisahkan larutan ke dalam beberapa komponennya atau suatu metode pemisahan bahan kimia yang berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap, kristalisasi yang bertujuan untuk memisahkan campuran dimana dalam suatu sistem dilakukan transfer massa zat terlalut dari larutan untuk membentuk padatan berbentuk kristal, kalsinasi yaitu proses pemanasan suatu benda hingga temprsasturnya tinggi, tetapi masih di bawah titik lebur untuk menghilangkan kandungan yang dapat menguap, dan sublimasi yaitu proses perubahan langsung bentuk padat suatu zat menjadi uap tanpa melalui bentuk cair.

Sang ilmuan muslim yang mahsyur di Barat dengan sebutan Geber itu pun tercatat berhasil menciptakan instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Selain itu, dia pun mampu menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.

Berkat jasanya pula teori oksidasi-reduksi yang begitu terkenal dalam ilmu kimia terungkap. Senyawa atau zat penting seperti asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat lahir dari hasil penelitian dan pemikiran Jabir. Ia pun sukses melakukan distilasi alkohol. Salah satu pencapaian penting lainnya dalam merevolusi kimia adalah mendirikan industri parfum.
Bagi peradaban Islam, kimia bukan hanya teori belaka. Melalui berbagai upaya, ilmuan Islam di abad keemasan telah melahirkan sederet kontribusi untuk hal-hal yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia. Selain melahirkan eksperimen luar biasa seperti yang tertera di atas, harus diakui pemikiran Jabir bin Hayyan di bidang kimia menjadi acuan ilmuan lainnya untuk melahirkan eksperimen yang lebih spektakuler di bidang ini dan bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari.
Jabir bin Hayyan juga kimiawan pertama yang menjelaskan pembuatan lem dari keju, hal ini dijelaskan dalam bukunya yang berjudul Book of the Hidden Pearl, juga menjelaskan resep pembuatan mutiara buatan dan pemurnian mutiara dalam bukunya yang berjudul Kitab Al-Durra al-Maknuna, berkat penemuan distilasinya yang sangat berpengaruh pada bidang kimia ini menjadi acuan kimiawan muslim lainnya yaitu Al-Razi yang juga terlahir pada masa Keemasan Islam tercatat sebagai kimiawan pertama yang mampu memproduksi minyak tanah melalui distilasi. Penemuan itu melahirkan turunan spektakuler yaitu pada abad ke-8 M, jalanan di kota Baghdad telah dilapisi dengan aspal, si hitam yang membuat jalan mulus itu merupakan produk turunan dari minyak setelah melalui distilasi yang merupakan gagasan cemerlang dari Geber sang ‘Bapak Kimia Modern’ yang tak lain ialah Jabir bin Hayyan sang Kimiawan pada masa Keemasan Islam. selain itu, Jabir bin Hayyan juga yang pertama kali mencatat tentang pemanasan whine akan menimbulkan gas yang terbakar, hal ini yang menimbulkan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol. Tak hanya eksperimen spektakuler yang dilahirkan oleh Geber atau Jabir bin Hayyan, ia pun menemukan alat laboratorium yang menjadi warisan berharga bagi para kimiawan dari masa ke masa yaitu Alambic. Alambic merupakan alat penyulingan yang terdiri dari dua tabung yang terhubung. Tabung kimia ini pertama kali ditemukannya pada abad ke- 8 M. “Ini merupakan penyulingan pertama,” papar Durant. Ensklopedia Hutchinson, menyebut alambic sebagai alat penyulingan pertama yang digunakan untuk memurnikan seluruh zat kimia.

Baca Juga :  Tradisi Kunutan: Akulturasi Kearifan Lokal dan Islam

Dari bacaan di atas menjelaskan bahwa betapa sangat berpengaruhnya pemikiran seorang Muslim untuk umat manusia hingga saat ini. Namun sayangnya, pengetahuan tentang sejarah istimewa ini minim diketahui oleh khalayak umum bahkan oleh umat islam sendiri. kebanyakan hanya mengenal ilmuan barat yang mampu melahirkan dan memberikan sumbangsih pemikiran, gagasan, eksperimen serta ilmu baru. Padahal hakikatnya ilmuan muslim khusunya dalam bidang kimia pada masa kemasan islamlah yang menjadi pelopor untuk kebaikan umat manusia yang semakin dikembangkan oleh ilmuan lainnya dari masa ke masa agar sesuai dengan perkembangan zaman. Para sejarawan sains mengakui bahwa ilmu kimia merupakan anak kandung dari peradaban Islam. “Ahli kimia Muslim adalah pendiri ilmu kimia” tutur Will Durant dalam The Story of Civilization IV: The Age of Faith.
Ilmuan asal Jerman di abad ke- 18 M itu mengakui bahwa ilmu kimia hamoir sepenuhnya diciptakan peradaban Islam. “Dalam bidang ini (kimia), peradaban Yunani (seperti kita ketahui) hanya sebatas melahirkan hipotesis yang samar-samar, ungkap Durant.
Lewat tulisan ini bisa disimpulkan bahwa dengan kiprah para ilmuan Muslimlah peradaban dunia menemukan titik terang untuk mempermudah kehidupan. Salah satunya di bidang kimia yang dapat kita rasakan manfaatnya hingga kini dan sudah pasti akan ada manfaat-manfaat baru yang akan kita rasakan dikemudian hari berkat kerja keras ilmuwan pada zaman ini dengan hasil penemuan juga eksperimen baru yang spektakuler dan lebih baik manfaatnya untuk kehidupan manusia.

Oleh : Aina Himla Rizqa dan Alisa Faiqotul Muna