Beranda Opini & Tokoh Baca atau Miskin

Baca atau Miskin

BERBAGI

(Opini) BERITATANGSEL.COM,- Membaca menjadi sebuah kebutuhan manusia. Oleh karena itu sejak kita duduk di Sekolah dasar (SD), yang pertama guru ajarkan kepada muridnya adalah membaca. Lantas bagaimana jika kita tidak membaca dan tidak bisa membaca di era post modern seperti sekarang.

Indonesia dengan multi budaya, masyarakatnya pernah melewati fase di mana logika mistik meracuni pemikiran manusia. Hal ini terjadi karena sisa-sisa budaya animisme dan dinamisme di kalangan masyarakat Indonesia. Tambah lagi, Indonesia adalah negara yang menerapkan pendidikan budaya, sehingga banyak mitos-mitos yang tumbuh di kalangan masyarakat, dan membuat masyarakat tidak berfikir lebih rasional.

Mitologi-mitologi yang diajarkan orang tua terdahulu di anggap lebih benar dari pada pelajaran di sekolah. Sehingga masyarakat Indonesia lebih gemar belajar secara lisan dari pada membaca buku-buku ilmiah. Judul tulisan ini hasil dari ketertarikan saya terhadap pintu toilet Himpunan Mahasiswa Banten (HMB) Jakarta yang tertuliskan “Baca atau Miskin”. Sehingga inspirasi tumbuh dalam fikiran saya untuk mendeskripsikan kalimat tersebut.

Semasa kecil, kita di ajarkan menghafal kata perkata, huruf perhuruf. Perlu kita sadari bahwa kebiasaan menghafal itu tidak menambah kecerdasan, malah menjadikan seseorang bodoh, mekanis seperti mesin. Jika pelajaran itu banyak, tentulah sudah tidak bisa di hafalkan lagi.

Dalam peristiwa ini, bukan berarti menghafal itu perkara yang tidak penting, melainkan ada sisi positif dan negatif yang perlu kita ketahui. Oleh karena itu saya coba memadukan yang baik dari kedua pihak, “menghafal dan memahami”. Jadi kata yang mengandung istilah, saya hafalkan dengan pendekatan intinya saja.

Sekarang sudah waktunya memeriksa pertanyaan tidak bisa di jawab “Ya” atau “tidak”. Pertanyaan umpamanya apakah Edison seseorang yang pintar atau bodoh?

Baca Juga :  Rekam Fikiran Seorang Pecundang

Tentu pertanyaan tersebut tidak bisa di jawab dengan logika “ya” atau “tidak”. Kita tahu, ketika umur 6 tahun, Thomas Edison di usir pulang oleh gurunya karena bodoh. Tapi sekarang, seluruh dunia tahu bahwa Thomas Edison menjelajahi otak kita dengan pemikirannya yang gemilang.

Teranglah di sini sang waktu mengubah Edison murid yang bodoh menjadi pemikir dunia yang terus mendapat kehormatan sejarah dalam dunia.

Sederhanyanya, titik jika di tarik akan menjadi garis, garis jika di tarik terus akan menjadi bidang, bidang jika di tarik terus akan menjadi badan. Kita memerlukian waktu mengubah titik menjadi garis atau garis menjadi bidang dan akhirnya bidang menjadi badan.

Dalam cerita Edison, dapat saya simpulkan bahwa pengetahuan manusia itu bersifat dinamis. Kapasitas pengetahuan seseorang akan terus bertambah jika kita terus menggali pengetahuan, seperti membaca dan sebagainya.

Seseorang yang hidup dengan fikiran, propaganda yang di lakukan dengan pena (tulisan) atau dengan lisan, perlulah pustaka yang cukup. Seorang petukang tidak bisa membuat gedung jika bahannya seperti semen, pasir, batu dan lainnya tidak ada. Begitupun jika kita mau melakukan perang pena, perlu akan catatan dari buku musuh, kawan dan guru. Catatan yang baik dan jitu bisa menaklukan musuh secepat kilat dan bisa merebut kesepakatan, kepercayaan yang bersimpati sepenuh-penuhnya. Baik dalam polemik perang pena dan propaganda, maka catatan itu adalah alat yang tidak bisa di tinggalkan. Seperti di zaman post modern sekarang, propaganda dominan di media sosial.

Membaca itu bukan hanya mengucapkan kata perkata seperti “INI IBU BUDI” atau huruf perhuruf seperti “A B C”, melainkan membaca adalah kemampuan analisis, berfikir kritis, dan membaca fenomena sosial dengan tajam, sehingga tumbuh ide-ide kreatif dan inovatif.

Baca Juga :  Karehkel Kabupaten Bogor Jadi Sorotan Desa Tertingga

Prnulis :Muhammad Fahri (Aray)

Pengurus HMI Komisariat Fakultas Adab dan Humaniora 2018-2019, Cabang Ciputat