Beranda Ragam Bhineka Tunggal Ika Berbicara

Bhineka Tunggal Ika Berbicara

BERBAGI

BERITATANGSEL.COM,- Indonesia terkenal akan keberagaman, suatu bangsa yang terdiri berbagai agama, budaya, etnis, bahasa dan golongan. Sehingga bangsa kita memiliki keunikan tersendiri. Lantas dengan keberagaman itu Indonesia dikenal oleh dunia luar dengan istilah negara yang plural.

Adapun pengertian plural adalah banyak atau majemuk. Pengertian ini juga di dalam kehidupan sosial menunjukkan adanya kemajemukan dalam suatu negara atau bangsa.

Indonesia membutuhkan orang-orang yang berintegritas tinggi, berjiwa nasionalis dan pastinya orang-orang telah memiliki kesadaran akan pentingnya toleransi. Toleransilah yang akan membuat Indonesia tetap berdiri kokoh. Toleransi akan mengajari bagaimana untuk bersatu dan membangun Indonesia.

Dengan berbagai kegiatan-kegiatan sosial yang langsung bersentuhan dengan masyarakat tentunya akan membangkitkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan. Dengan rasa kebersamaan dan menghargai satu sama lain, Indonesia akan menjadi aman dan damai, sehingga terwujudlah tujuan Indonesia.

Saya teringat dengan adanya sebuah konflik pembakaran rumah ibadah di Tolikara, Papua Barat, pembakaran gereja di Aceh Singkil, dan bom kuil Budha di kota Jakarta (7 Agustus 2013), serta pembakaran 50 rumah Warga Muslim Syiah di Madura. Tentunya masih banyak lagi kasus-kasus. Intoleransi di Ibu Pertiwi yang tidak di ketahui oleh masyarakat. Menurut Koran Sindo bahwa kasus intoleransi tertinggi di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat. Dan berdasarkan survei yang di lakukan Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid, tingginya kasus intoleransi di Jawa Barat setidaknya dapat dilihat dari banyaknya pelaku bom bunuh diri yang tercatat asal Jawa Barat. Selain Jawa Barat, provinsi lain yang menempati urutan tertinggi kasus intoleransi yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Kesimpulan yang dapat saya ambil dari fenomena ini bahwa warga Indonesia masih kurang memiliki kesadaran untuk bertoleransi antar manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama. Ibu Pertiwi membutuhkan insan yang berintegritas tinggi dan berkarakter serta berjiwa nasionalisme. Dengan integritas tinggi, karakter yang baik serta nasionalisme individu pasti akan bisa bersatu walaupun perbedaan begitu terasa mencolok. Seperti semboyan NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Walaupun bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang beraneka ragam. Namun, keseluruhannya merupakan suatu persatuan.

Baca Juga :  Begini Tradisi Warga Belendung Sambut Gembira Bulan Suci Ramadhan

Indonesia yang berbeda-beda harus menjadi satu agar tercapainya tujuan Indonesia, yang tertulis pada Pembukaan UUD 1945.

Alinea Keempat, disebutkan bahwa “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Dasar inilah yang menggerakan dan menyadarkan saya sebagai salah satu pemudi Indonesia untuk tetap mengisi kemerdekaan dengan hal-hal positif dan terus berperan aktif untuk NKRI. Ini adalah salah satu contoh tolerasi antar manusia.

Harapan saya dan teman-teman bahwa sikap toleransi bisa menjadi karakter yang sudah tertanam di setiap individu agar terwujudnya tujuan NKRI “Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”.

Mari saudara-saudaraku dari Sabang sampai Merauke, mari berperan untuk Indonesia lebih baik dengan bertoleransi dan berbagi antar sesama. Lemparlah senyum, salam dan juga sapa pada sesama agar tercipta suasana suka cita persatuan nan kesatuan.

Mari kita jaga Indonesia dengan keberagamaan, toleransi dan menghargai Antar Sesama, (Nuston Wahid).

Penulis: Siti Toimah Diana Sari
Mahasiswi Jurusan PAI, UIN Jakarta. Juga Kader HMB Jakarta