Beranda Ragam Sholawat Sebagai Kekayaan Budaya Masyarakat Tirtayasa, Serang, Banten

Sholawat Sebagai Kekayaan Budaya Masyarakat Tirtayasa, Serang, Banten

BERBAGI

BERITATANGSEL.COM,- Jika kita mendengar kata Banten, yang ada di fikiran kita adalah daerah yang pekat dengan ilmu magis, bela diri dan jawara. Tambah lagi banyak orang luar Banten yang mempelajari ilmu magis, dan orang tersebut mengklaim bahwa ilmu yang dia miliki berasal dari Banten. Peristiwa tersebut menjadikan citra Banten lebih tajam perihal ilmu magis.

Selain ilmu magis dan pencak silat, Banten juga kaya dengan budaya sholawatan. Nenek moyang terdahulu berhasil mengkolaborasikan bahasa Arab dengan bahasa Jawa Banten (Bebasan), bahasa Arab dengan Sunda, menjadi bentuk sholawatan.

Bukan hanya pandai dalam membuat lirik sholawat, nenek moyang kita juga pandai membuat berbagai macam cengkok sholawat. Oleh karena itu tidak heran, sering kita dengar satu lirik sholawat tapi bunyi cengkoknya berbeda-beda.

Tulisan ini adalah edisi ke dua tentang warisan budaya di Masyarakat Tirtayasa, Serang-Banten. Ada beberapa alasan saya menulis warisan budaya tersebut:

pertama, ingin menjaga warisan budaya nenek moyang kita, supaya tidak lebur oleh perkembangan zaman. Karena budaya sejenis ini (Shalawat, Ilmu magis), akan mudah tergerus habis oleh revolusi industri seperti sekarang.

Kedua, saya coba menyadarkan kepada generasi muda, khususnya saya sebagai penulis, supaya semangat mewarisi budaya yang ada di daerahnya.

Ketiga, saya coba merawat warisan budaya Banten dalam bentuk tulisan. Sehingga, suatu saat budaya ini hilang dari kehidupan masyarakat, dan generasi yang akan datang mau mempelajarinya lagi, tulisan ini menjadi referensi untuk mereka.

Ketiga alasan tersebut merupakan bentuk ke khawatiran saya tentang warisan budaya, khususnya di Banten. Sampai saat ini, yang mewarisi budaya tersebut adalah generasi 80-90 an. Di khawatirkan jika mereka meninggal dunia, warisan budaya tersebut lebur begitu saja tidak terwarisi, baik sisi keturunan maupun tulisan.

Baca Juga :  Pengajuan Pembuatan Akta Kematian Mengalami Peningkatan

Sholawat bentuk jamak dari kata salla atau salat yang berarti: doa, keberkahan, kemuliaan, kesejahteraan, dan ibadah.

Arti bersholawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika sholawat itu datangnya dari Allah Swt. berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari malaikat berarti memberikan ampunan. Sedangkan sholawat dari orang-orang mukmin berarti suatu doa agar Allah Swt. memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya.

Sholawat juga berarti doa, baik untuk diri sendiri, orang banyak atau kepentingan bersama. Sedangkan sholawat sebagai ibadah ialah pernyataan hamba atas ketundukannya kepada Allah Swt., serta mengharapkan pahala dari-Nya, sebagaimana yang dijanjikan Nabi Muhammad Saw., bahwa orang yang bershalawat kepadanya akan mendapat pahala yang besar, baik sholawat itu dalam bentuk tulisan maupun lisan (ucapan).

Salah satu sholawat yang sering saya jumpai waktu kecil di desa saya, Kampung Cilandung, Desa Sujung, Kecamatan Tirtayasa, Serang-Banten:

Dikentongi di adzani ora teka (dikentongin di adzanin tidak datang)

Iku wong bakal cilaka (Orang itu akan celaka)

Dikentongi di adzani ora teka (dikentongin di adzanin tidak datang)

Iku wong bakal cilaka (Orang itu akan celaka)

Sugih sawah sugih mobil (Kaya sawah kaya mobil)

lamun mati tunggangane katil (kalau meninggal/mati kendaraannya katil)

Harta benda ore ngintil (Harta benda tidak ikut)

Sing ngintil amal secuil (Yang ikut amal sedikit)
(Ahmad, 21 Tahun, Cilandung, Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat yang tertulis di atas memiliki maksud bahwa umat Islam harus mendirikan shalat. Dunia adalah alam fana. Walaupun banyak sawah, banyak mobil, ketika meninggal dunia, harta duniawi tidak bisa di bawa ke alam kubur maupun akhirat. Ke alam kubur naik katil/keranda mayat, bukan mobil. Dan yang di bawa ke akhirat bukan sawah, tapi amalan kita selama di dunia.

Baca Juga :  Diskusi Publik dan Buka Puasa Bersama Ikatan Remaja Mushola Al-Azhar

Sholawat dari bahasa Jawa Banten (Bebasan):

Bapak Ibu katuran sholat (Bapak ibu ayo sholat)

Limang waktu napik telat (Lima waktu jangan telat)

lamun telat siksane berat (kalau telat siksanya berat)

kisuk ning alam akherat (Besok di alam akhirat)

Sholat boten ngaji boten (Sholat tidak ngaji tidak)

Pahalane boten wenten (Pahalanya tidak ada)

lamun boten sholat siksane berat (Kalau tidak sholat siksanya berat)

kisuk ning alam akherat (Besok di alam akhirat)

Sholawat nabi gonah sekabeh umat (Shalawat nabi untuk semua umat)

Umat islam aje tinggal sholat (Umat islam jangan tinggal sholat)

Tinggal sholat siksane berat (Tinggal sholat siksanya berat)

Kisuk ning alam akhirat (Besok di alam akhirat)
(Jamhari, 59 Tahun, Cilandung, Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat ini memiliki maksud yang sama seperti sholawat sebelumnya, yaitu ajakan shalat kepada muslim.

Sholawat dari bahasa Sunda:

Eling-eling umat (Sadarlah Umat)

Muslimin muslimat (Muslimin Muslimat)

Hayu urang berjama’ah shalat (….)
estu kawajiban (Ayo kita shalat (….) berjamaah untuk untuk kewajiban)

Urang keur hirup di dunya (Saya lagi hidup di dunia)

Kanggo pibeukeuleun Urang jaga di akherat (Buat pembekalan saya di akherat)

dua puluh tujuh ganjaran nu berjama’ah (27 ganjaran buat yang berjamaah)

lamun sorangan hiji ge mun bener fatihah (kalau shalat munfarid, pahalanya satu, kalau fatihahnya benar)
(Romlah, 65 Tahun, Cilandung, Sujung, Tirtayasa, Serang-Banten)

Sholawat ini memiliki maksud, ajakan umat Islam untuk shalat berjamaah. Menyampaikan pesan, bahwa shalat berjamaah itu pahalanya lebih besar dari pada shalat munfarid (sendiri).

Selain itu, masih banyak lagi jenis sholawat, baik dari bahasa Jawa, Sunda, campuran bahasa Jawa-Arab, bahasa Sunda-Arab, maupun sholawat Badar, Nariyah yang di ubah cengkoknya.

Baca Juga :  Kondisi Situ Masih Kotor, HMI Ciputat Kritik Pemkot Tangsel

Banten sudah melewati berbagai fase sejarah. Seperti masa Pra Sejarah, Masa Hindu Budha, masa Kolonial, masa Kesultanan, masa Kemerdekaan, masa Banten jadi Provinsi, sampai saat ini. Tapi masyarakat Banten tidak meleburkan budaya nenek moyang terdahulu. Ketika era kesultanan Banten, masyarakat Banten tidak menghilangkan budaya Hindu Budha, tapi mencoba memodifikasi budaya tersebut ke arah yang lebih islami.

Begitulah masyarakat Banten mengubah keyakinan melalui budaya. Strategi tersebut sering kita dengar di masa sejarah Wali Songo menyebarkan syariat Islam di Nusantara. Wajar saja, karena Maulana Hsanudin, banyak belajar strategi dakwah dari ayahnya, yaitu Syrif Hidayatullah atau biasa di sebut Sunan Gunung Djati.

Semoga generasi muda sekarang senantiasa mewarisi warisan budaya dan kearifan lokal nenek moyang kita, khususnya di Banten.

Jika individu mengakui budaya daerahnya, maka akan menjadi kekayaan untuk daerah tersebut. Jika suatu daerah menjaga budaya derahnya, maka akan menjadi kekayaan untuk bangsa ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Admin)

Penulis: Muhammad Fahri (Aray)

Pengurus HMI Komisariat Adab dan Humaniora 2018-2019, Cabang Ciputat