Beranda Berita Photo Lidi Si Umang, Cemilan Tradisional Tampilan Modern

Lidi Si Umang, Cemilan Tradisional Tampilan Modern

BERBAGI
Foto: Istimewa

Pondok Aren, Beritatangsel.com – Melimpahnya khasanah cemilan tradisional ternyata memberi ilham bagi pelaku usaha muda. Berpikir kreatif dan jeli melihat peluang, para pengusaha muda membungkus camilan tradisional dengan kemasan modern.

Strategi ini ternyata mampu menaikkan nilai jual bagi makanan tradisional. Salah satu pelaku usaha yang sukses melihat peluang dari camilan tradisional adalah pasangan suami istri Saeful Bachri (22) dan Siti Khoiriyah (22).

Pasangan muda yang baru menginjak usia pernikahan 2 tahun ini memproduksi camilan khas Jawa Barat, yakni mie lidi atau lidi-lidian sejak November 2014 silam.

Didasari rasa ingin keluar dari zona nyaman sebagai pegawai dan bernostalgia dengan masa kecilnya, menjadi alasannya untuk terjun ke bisnis ini karena besarnya peluang yang bisa digarap.

Selain itu jiwa enterpreneur Saeful yang menggebu sejak masa SMP menjadi faktor pengobar semangatnya untuk menjadi pengusaha dengan melepas pekerjaan yang menjadi sumber pemasukannya.

Menurut dia, masyarakat Indonesia, khususnya anak muda, harus berani keluar dari zona nyaman dan berpikir kreatif.

Saeful Bachri dan Istri

“Saya ingin mengubah citra makanan tradisional, khususnya lidi-lidian ini, yang orang memandangnya sebagai makanan yang tidak sehat dan kampungan, Saya ingin perbaiki citra itu dengan produk saya, ” ujar Saeful pemilik brand lidi Si Umang itu kepada wartawan. Senin (31/7/2017).

Awalnya Saeful tidak menyangka usahanya ini akan meningkat pesat di awal-awal usahanya, tidak adanya basic kuliner dan beberapa kali membuka usaha mengalami kegagalan menjadi salah satu faktor keraguannya itu.

Namun berkat bantuan pemasaran dari Siti Khoiriyah yang saat itu masih berstatus pacarnya, Saeful meyakinkan dirinya untuk terjun secara penuh dan meninggalkan pekerjaannya untuk fokus pada usaha mie lidi. Hasilnya sangat wow, omzet menembus 80 juta sempat Ia dan istri rasakan, sampai-sampai Ia bisa memberdayakan 7 orang untuk jadi karyawannya. Permintaan yang meningkat drastis sempat menjadi sebab turunnya omset pada usahanya, disebabkan permintaan yang jauh melampaui kemampuan sumber dayannya, mie lidi Si Umang berkurang kualitasnya.

Namun badai penurunan omset hanya berlangsung satu bulan setelah itu Ia bisa mengontrol kualitas produknya, omzet pun kembali melonjak.

Dia mengklaim memulai bisnis dengan modal Rp250.000. Uang tersebut digunakan untuk membeli bahan jadi dari produsen lain, seiring melebarnya pasar mie lidi Si Umang yang berdampak pada omset yang melonjak, dengan pertimbangan kualitas akhirnya Saeful dan Khoiriyah sepakat untuk membeli peralatan produksi.

Untuk pemasarannya, beberapa kali Khoiriyah melakukan strategi pemasaran melalui endorse dari arti-artis media sosial, selain itu tergabungnya bisnis mie lidi Si Umang dalam UMKM binaan pemkot Depok membuka peluangnya untuk memasarkan produknya ke kota-kota di Indonesia melalui festival-festival yang diselenggarakan pemerintah, bahkan Bali dan Lombok pernah Ia sambangi.

Agar berbeda dengan mie lidi yang dijual di warung, dia menambahkan rasa-rasa yang membuat konsumen ketagihan. Selain menjual rasa asin dan pedas, dia menawarkan mie lidi rasa keju, sapi panggang (barbeque), jagung manis, dan pedas level dengan berbagai level dan nama-nama yang unik dan kini selain selain mie lidi Ia juga menjual jenis camilan tradisional lain salah satunya Kicimpring.

Saeful dan Khoir membuka usaha ini bukan hanya ingin memperkaya dirinya, harapannya, dengan adanya usaha ini masyarakat yang mau menjadi partner bisa maju ekonominya dengan usaha ini.

“Saya juga merekrut agen dan reseller untuk meningkatkan penjualan, lidi Si Umang sudah memiliki 30 agen di 30 kota yang tersebar di Indonesia, kalo reseller saya gatau tepatnya kalau tidak salah pernah mencapai 200 orang dengan yang paling jauh di Papua, ” Papar Saeful.

“Kalo agen mitra tetap, kalo reseller mitra tidak tetap” tambahnya.

Lidi Si Umang dibandrol dengan harga Rp7.000 yang kemasan kecil dan Rp25.000 untuk bungkus terbesar gram. Dari awal bisnis ini, omzet yang didapat mencapai Rp55juta dengan margin keuntungan mencapai 35%. Sampai pada bulan November saat pernikahan Saeful dan Khoir

Kemasan mie lidi Si Umang yang menarik menjadi daya dobrak lain dalam pemasaran produknya. Ia ingin membidik kalangan menengah ke atas, dia mengubah kemasan agar produknya bisa naik kelas.

“Awalnya sama pake plastik bening tapi saya lihat harus ada perubahan yang lebih modern, akhirnya saya ubah kemasannya seperti ini, ada Si Umang dan medsos-medsos lidi Si Umang” ujar Saeful.

Berkat tampilan nan modern tersebut, mie lidi Si Umang semakin melesat, menjulang. Melihat peningkatan ini, dia semakin yakin mampu membawa Usahanya menjadi lebih maju, “harus berani beda dan harus berani keluar zona nyaman, ” tukasnya. (Iqbal)

 

Baca Juga :  6 Bukti yang Dipercaya Bahwa Alien Pernah Turun ke Bumi