Beranda Berita Photo Supermarket Dan Departemen Store Terkait Plastik Berbayar

Supermarket Dan Departemen Store Terkait Plastik Berbayar

BERBAGI
Ilustrasi plastik

Ciputat, Beritatangsel.com – Tip Top Supermarket dan Departemen Store, Jalan RE Marthadinata Ciputat mencoba melawan kebijakan terkait pemberlakukan plastik berbayar. Pusat perbelanjaan itu malah menggunakan kantong plastik yang dinilai ramah lingkungan.

Terhitung sejak 21 Februari lalu, Pemkot menerapkan plastik berbayar di sejumlah supermarket atau pusat perbelanjaan. Itu sesuai kebijakan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyusul gerakan Indonesia bebas sampah pada 2022.

Namun Tip Top Supermarket tak memberlakukan plastik berbayar untuk pelanggannya. Setiap konsumen diberikan plastik ramah lingkungan untuk menyimpan barang belanjaannya. Kantong plastik tersebut bentuknya lebih halus dibandingkan plastik biasanya.

Pimpinan Tip Top Ciputat, Yusuf menerangkan pihaknya memilih plastik ramah lingkungan karena dalam jangka satu tahun plastik ini akan melebur dengan tanah meskipun, ada aturan dari pemerintah, plastik berbayar harus diterapkan. “Sudah mengikuti beberapa tes dengan hasil plastik itu dapat hancur selama setahun,” tambah Yusuf.

Ia sendiri hingga kini masih menunggu keputusan dari lebih lanjut apakah Tip Top menggunakan plastik ramah lingkungan atau harus menerapkan plastik berbayar Rp 200 per kantong. “Saat ini kami masih rapat dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Badan Lingkungan Hidup. Kami tetap ingin mengikuti regulasi yang ada,” paparnya.

Hal sendada juga diutarakan oleh Human Resource Development (HRD) Tip Top, Ella. Ia menilai jika menerapkan plastik berbayar, pihaknya mengkhawatirkan Rp 200 itu dapat membebani pelanggan. “Kami cuma takut membebankan customer aja,” paparnya.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tangsel langsung memantau penggunaan plastik di supermarket pasca pemberlakukan plastik berbayar. Beberapa ritel atau pusat perbelanjaan didatangi petugas Disperindag, kemarin.

Kabid Industri Disperindag Kota Tangsel, Ferry Payacun menerangkan kedatangan pihaknya ke sejumlah pusat perbelanjaan, selain untuk melakukan pengawasan izin peredaran makanan dan minuman sebagaimana sudah sepekan ini dilakukan, juga guna memantau pemakaian plastik berbayar.

“Saya lebih setuju seluruh supermarket memakai plastik ramah lingkungan seperti di Tip Top Ciputat, tidak perlu harus bayar 200 rupiah,” tegas Ferry.

Ferry menambahkan plastik ramah lingkungan di Tip Top ini sudah sesuai standarisasi pengujian maka akan berbeda dengan plastik pada umumnya. Ia menilai ini cukup kreatif dalam mensiasati lingkungan tetap lestari kendati menggunakan plastik.

“Plastik ramah lingkungan tentunya berbeda dengan plastik pada umumnya dan ini cukup bagus jika diterapkan. Akan berbahaya jika menggunakan pastik tidak ramah lingkungan karena kulitas bahannya membahayakan. Dipastikan plastik tidak akan hancur hingga sekian puluhan tahun dan mencemari tanah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany menegaskan setelah rapat dengan berbagai pihak baik pemerintah, dari pihak ritel sendiri dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang peduli terhadap sampah sudah diputuskan adalah mulai 21 Februari, penerapan plastik berbayar dilakukan sejumlah ritel di Tangsel.

Kebijakan per kantong plastik harus dibayar Rp 200. Meski sebagian sebut Airin, nilai itu terlalu murah, namun tiga bulan ke depan akan dievaluasi apakah memang benar itu terlalu murah atau tidak. Poin yang didapat bukan pada penjualan plastiknya tapi, bagaimana mengaja masyarakat tidak menggunakan plastik.

“Memang saat rapat ada yang mengusulkan antara 200 sampai 1.500 rupiah per kantong plastik. Tapi setelah disepakati mengambil yang 200 rupiah saja. intinya mengajarkan bagaimana masyarakat mengurangi sampah pasltik,” imbuhnya.

Dengan adanya kebijakan itu, konsumen diharapkan mulai saat ini harus berpikir ulang jika berbelanja ke ritel, tentunya harus membawa tas sendiri yang berbahan bukan plastik. Ancaman terbesar jika selalu menggunakan plastik, polusi sampah akan semakin besar.

Sementara puluhan tahun bahan plastik di dalam tanah tak pernah hancur. Ini sangat membahayakan pencemaran lingkungan seperti air.

Baca Juga :  Jaga Citra Guru, PGRI Harus Punya Gedung Sendiri