Beranda Opini & Tokoh Guru vs Dokter

Guru vs Dokter

BERBAGI

Sejak pemerintah mengesahkan undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, sudah sepatutnya para pendidik merasa bangga atas pengakuan bahwa pekerjaan sebagai Guru adalah bentuk dari “profesi”. Profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut pendidikan tinggi dan ditempuh dalam waktu yang tidak sebentar seperti halnya seorang ahli hukum, arsitek dan Dokter.  Sudah banyak pembicara dalam seminar-seminar atau penulis pengamat pendidikan yang menyandingkan profesi guru dan dokter. Seorang guru adalah ibarat dokter, kedua profesi yang  berbeda ini ternyata memiliki banyak kesamaan, hingga tidak asing lagi ditelinga kita sebagai guru istilah-istilah kedokteran yang akrab di dunia pendidikan seperti kata-kata penyakit, diagnosis, isnstrumen kemudian yang populer terdengar belakang ini adalah Malpraktek.

Marilah kita melihat kesamaan kedua profesi tersebut menurut sudut pandang penulis.

  1. “If a child can not learn the way we teach, we must teach him or her the way he or she can learn.  Bilamana seorang  anak tidak dapat belajar dengan cara yang kita ajarkan cobalah dengan cara atau gaya  mereka belajar. Tugas para guru adalah menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan anak. Hal seperti ini pula yang dilakukan seorang dokter menyesuaikan pengobatan dengan kebutuhan si pasien.
  1. Seorang dokter melakukan diagnosis gejala-gejala yang terjadi pada pasiennya hingga menemukan penyakit apa yang diderita dan bagaimana penanganannya, diagnosis yang tepat menghasilkan pengobatan  yang tepat pula. Test diagnosis dilakukan seorang guru apabila prestasi belajar siswanya menurun. Dari test diagnosis ini akan diketahui sebab-sebab kesulitan belajar yang dialami siswa unntuk kemudian mecarikan solusinya. Diagnosis yang tepat menghasilkan perbaikan belajar yang tepat.
  2. Setelah mendiagnosis ternyata pasien tersebut menderita penyakit berbahaya semacam kanker, stroke atau gagal ginjal, hal yang dilakukan dokter adalah membesarkan hati si pasien untuk tetap optimis, memberi motivasi semangat  hidup, meyakinkan si pasien bahwa ia dapat sembuh dan melawan penyakitnya. Begitu pula seorang guru senantiasa memotivasi para siswa untuk terus berusaha, tidak lekas putus asa dan  yakin bahwa mereka pasti bisa. Guru juga harus kreatif dalam strategi pengajaran sehingga suasana belajar lebih menyenangkan.
  3. Dokter ataupun guru senantiasa siap sedia dengan media dan peralatan yang lengkap dalam rangka memberikan jasa pelayanan yang baik bagi kliennya/mitranya.
  4. Dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “Malpraktek” yang berkonotasi negatif, dimana akibatnya berdampak traumatik pada diri pasien. Hal yang samapun terjadi dalam dunia pendidikan, kesalahan dalam strategi pengajaran termasuk malpraktek dalam pendidikan. Tidak sedikit siswa yang menjadi korban malpraktek gurunya, kisah nyata dialami sebut saja fulan si sebuah smp negeri yang trauma belajar matematika hingga sekarang ia duduk diperguruan tinggi dikarenakan perkataan guru yang mengatakan, (maaf) Bodoh, tolol, idiot hitungan seperti itu saja gak bisa.
Baca Juga :  Ahok Didesak Batalkan Rencana Legalisasi Daging Anjing  

Ada lagi Malpraktek yang dilakukan guru ketika mengajar, disadariatau tidak yaitu menertawakan jawaban murid yang salah akibatnya seisi kelas ikut mentertawakan, sekarang pertanyaannya, apakah ini melukai harga diri siswa tersebut?, Apakah ini akan mematikan keratifitas mereka kelak ? bagaimana dampak negatifnya kedepan ? Benci dengan  pelajaran tersebut, dengan  gurunya dan penurunan semangat belajar. Sejumlah pertanyaan tersebut diatas menuntut tanggung jawab ke profesionalan kita sebagai seorang guru. Dokter dapat menyebabkan kematian seorang pasien jika melakukan malpraktek baik kematian secara fisik dan mental dalam arti mati yang sebenarnya sedangkan malpraktek yang dilakukan guru kematian yang berdampak lebih besar yaitu kematian mental hingga kelak mereka menjadi generasi seperti pepatah “Hidup segan mati tak mau”. Malpraktek yang terjadi didunia pendidikan dapat membunuh, mematikan Kreativitas, Imaginasi, Explorasi dan Inovasi siswa-siswa kita, sedangkan semua itu sangat berperan penting bagi kemajuan peradaban suatu bangsa. Pada akhirnya apapun profesi anda berkomitmenlah. Dokter ataupun  guru profesi yang mulia, kita mengabdi pada kehidupan. Guru menghantarkan siswa-siswa nya meraih cita-cita menjadi dokter. Tak aka nada dokter tanpa jasa seorang guru. Murid-murid kita adalah embrio masa depan jadikanlah mereka yang paling kokoh dan paling baik bagi terbentuknya masyarakat yang lebih luas, yang layak, indah dan harmonis (meminjam kata-kata John Dewey/beritatangsel.com)