BERITATANGSEL.COM — Pernahkah Anda begitu larut dalam kisah sebuah novel hingga merasa tergugah untuk mengunjungi tempat-tempat yang diceritakan di dalamnya?
Jika pernah, bisa jadi Anda telah merasakan salah satu bentuk wisata berbasis literasi (literary tourism), yang juga kerap disebut sebagai wisata sastra.
Wisata jenis ini sebenarnya bukan fenomena yang benar-benar baru. Di Indonesia, salah satu contoh yang cukup kuat dapat dilihat setelah novel Laskar Pelangi (2005) karya Andrea Hirata menjadi sangat populer. Belitung, yang menjadi salah satu lokasi sentral dalam cerita, kemudian semakin dikenal sebagai destinasi wisata.
Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pantai-pantai indah di Belitung, tetapi juga mengunjungi berbagai tempat yang memiliki keterkaitan dengan cerita dan kehidupan tokoh dalam novel, seperti SD Muhammadiyah Gantong, yang dikenal sebagai sekolah tempat Ikal dan kawan-kawannya menimba ilmu, serta kawasan Manggar yang memiliki keterkaitan dengan kehidupan sang penulis.
Fenomena serupa juga terjadi di Ubud setelah novel Eat, Pray, Love (2006) karya Elizabeth Gilbert mendapatkan popularitas global. Ubud kemudian semakin dikenal oleh wisatawan sebagai salah satu lokasi yang memiliki hubungan kuat dengan cerita dalam karya tersebut.
Sastra yang Menghidupkan Destinasi
Di berbagai negara, wisata berbasis sastra bahkan telah berkembang cukup lama.
Di Inggris, misalnya, kota kecil Stratford-upon-Avon menjadi destinasi favorit para penggemar karya William Shakespeare. Kota tersebut dikenal sebagai tempat kelahiran sang pujangga dan memiliki berbagai situs yang berkaitan dengan kehidupannya.
Penggemar serial Harry Potter juga menjadikan King’s Cross Station di London sebagai salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi. Peron 9¾ yang muncul dalam kisah Harry Potter menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemar.
Sementara itu, di Paris, Prancis, kawasan Rive Gauche di sepanjang Sungai Seine menjadi salah satu kawasan yang memiliki sejarah panjang dengan kehidupan para penulis dan intelektual. Kawasan tersebut, termasuk berbagai kafe yang pernah menjadi tempat berkumpulnya kalangan intelektual dan sastrawan pada dekade 1920-an, turut menjadi bagian dari daya tarik wisata berbasis sastra.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa karya sastra dapat menciptakan hubungan emosional antara pembaca dengan sebuah destinasi. Tempat yang sebelumnya hanya berupa lokasi geografis dapat berubah menjadi ruang yang memiliki makna karena pembaca telah terlebih dahulu mengenalnya melalui sebuah cerita.
Media Sosial Mendorong Popularitas Wisata Literasi
Perkembangan media sosial semakin memperkuat tren wisata literasi.
Pada 2026, pengalaman wisata tidak lagi hanya dibagikan melalui cerita dari mulut ke mulut atau buku panduan perjalanan. Foto, video pendek, ulasan, hingga konten storytelling di media sosial memungkinkan sebuah destinasi yang berkaitan dengan karya sastra dikenal oleh audiens yang jauh lebih luas.
Di Indonesia, penyelenggara walking tour seperti @jktgoodguide juga beberapa kali menghadirkan rute wisata yang berkaitan dengan karya sastra dan kehidupan tokoh sastra, termasuk Chairil Anwar.
Bukan hanya rute perjalanan, festival buku dan sastra juga semakin berpotensi menjadi bagian dari pengalaman wisata.
Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), misalnya, telah menjadi salah satu agenda sastra yang dikenal luas dan secara rutin menghadirkan penulis, pembaca, serta pelaku industri kreatif dari berbagai negara.
Hal ini menunjukkan bahwa wisata literasi memiliki cakupan yang jauh lebih luas daripada sekadar mengunjungi tempat yang disebutkan dalam sebuah buku.
Wisata literasi dapat menggabungkan perjalanan, sejarah, sastra, budaya, komunitas, festival, hingga pengalaman kreatif.
Hubungan Timbal Balik antara Sastra dan Pariwisata
Karya sastra dan pariwisata pada dasarnya memiliki hubungan yang erat.
Putra (2019) menyebutkan bahwa sastra dan pariwisata memiliki hubungan resiprokal. Pariwisata dapat menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya karya sastra, sementara karya sastra dapat memberikan kontribusi terhadap promosi suatu destinasi.
Hubungan tersebut menjadi menarik karena sebuah destinasi tidak selalu harus dipromosikan melalui iklan konvensional.
Sebuah cerita yang kuat dapat menjadi alat promosi yang sangat efektif.
Ketika pembaca merasa terhubung secara emosional dengan tokoh dan cerita, mereka dapat memiliki keinginan untuk melihat secara langsung tempat yang selama ini hanya mereka bayangkan melalui halaman buku.
Dengan demikian, novel dapat menjadi semacam “pintu masuk” menuju sebuah destinasi.
Empat Bentuk Wisata Sastra
Para ahli memiliki sejumlah definisi mengenai literary tourism. Watson (2006), misalnya, menjelaskan bahwa wisata sastra mencakup kegiatan mengunjungi tempat kelahiran, rumah, maupun makam penyair dan sastrawan yang telah meninggal dunia.
Sementara itu, Squire (1996) mendefinisikan wisata sastra sebagai kegiatan wisata yang berkaitan dengan tempat-tempat yang dikenal karena penggambarannya dalam karya sastra atau keterkaitannya dengan tokoh sastra.
Butler (1986) kemudian membagi wisata sastra ke dalam empat tipe.
Pertama, wisata yang berkaitan dengan penghormatan terhadap lokasi nyata.
Dalam tipe ini, wisatawan mengunjungi tempat nyata yang memiliki hubungan dengan sebuah karya sastra. Contohnya adalah kunjungan ke Pantai Tanjung Tinggi yang berkaitan dengan Laskar Pelangi, atau berbagai lokasi di Ubud yang memiliki keterkaitan dengan Eat, Pray, Love.
Kedua, wisata yang berfokus pada lokasi dalam karya fiksi.
Jenis ini lebih menitikberatkan pada tempat yang memiliki arti penting dalam cerita, bukan pada kehidupan sang penulis.
Salah satu contohnya adalah rute wisata Tarka yang terinspirasi dari novel Tarka the Otter karya Henry Williamson yang diterbitkan pada 1927. Novel tersebut menceritakan perjalanan hidup seekor berang-berang bernama Tarka di kawasan Devon Utara, Inggris.
Ketiga, wisata yang berkaitan dengan tempat yang pernah menarik bagi tokoh-tokoh sastra.
Dalam tipe ini, daya tarik wisata muncul karena kawasan tersebut memiliki hubungan historis dengan kehidupan para penulis atau intelektual.
Kawasan Rive Gauche di Paris merupakan salah satu contoh yang dapat menggambarkan bentuk wisata tersebut.
Keempat, destinasi yang mendapatkan daya tarik karena popularitas seorang penulis.
Dalam tipe ini, popularitas seorang sastrawan turut mengangkat citra sebuah kota atau kawasan.
Edinburgh, misalnya, memiliki keterkaitan dengan perjalanan kreatif J.K. Rowling dan dunia Harry Potter, sehingga berbagai lokasi di kota tersebut kemudian menjadi bagian dari pengalaman wisata bagi para penggemar karya sang penulis.
Ketika Film Menghidupkan Kembali Karya Sastra
Busby dan Klug (2001) memperluas pembahasan mengenai wisata sastra dengan memasukkan aktivitas travel writing serta perjalanan wisata ke berbagai lokasi yang digunakan dalam film-film yang diadaptasi dari karya sastra.
Fenomena ini dapat dilihat pada Selandia Baru, yang mendapatkan perhatian wisatawan dunia setelah menjadi lokasi utama produksi film The Lord of the Rings, yang diadaptasi dari trilogi karya J.R.R. Tolkien.
Dalam konteks ini, wisatawan tidak hanya tertarik pada buku atau filmnya, tetapi juga ingin merasakan secara langsung lanskap yang sebelumnya mereka kenal melalui cerita dan layar lebar.
Inilah kekuatan utama wisata literasi: kemampuan sebuah cerita untuk mengubah tempat imajiner menjadi pengalaman nyata.
Apakah Anda Seorang Wisatawan Literasi?
Perkembangan wisata literasi menunjukkan bahwa perjalanan wisata tidak selalu dimulai dari sebuah peta.
Terkadang, perjalanan dimulai dari sebuah halaman buku.
Sebuah novel dapat membuat pembacanya penasaran terhadap sebuah kota. Sebuah puisi dapat membuat seseorang ingin melihat tempat yang menjadi inspirasinya. Sebuah film yang diadaptasi dari novel dapat membuat sebuah lanskap menjadi destinasi impian.
Di era media sosial, hubungan antara cerita, destinasi, dan wisatawan tersebut menjadi semakin kuat.
Lalu, bagaimana dengan Anda?
Apakah setelah membaca sebuah novel Anda pernah merasa ingin mengunjungi tempat yang diceritakan di dalamnya?
Jika pernah, mungkin tanpa disadari Anda bukan hanya seorang pembaca.
Anda mungkin juga sudah menjadi seorang penggemar wisata literasi.
Penulis:
Dini Anggraeni Sirad, S.Hum., MBA.
Dosen S1 Pariwisata, Universitas Prasetiya Mulya
Dikirim: 11 Agustus 2026










